Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dari Standar Kecantikan hingga Kesenjangan Gaji, Ini 7 Tekanan Sosial yang Sering Dihadapi Perempuan

Cicik Nur Latifah • Selasa, 12 Agustus 2025 | 01:49 WIB
Dari tuntutan peran ganda hingga ancaman kekerasan, inilah 7 tekanan sosial yang membentuk realitas hidup perempuan.
Dari tuntutan peran ganda hingga ancaman kekerasan, inilah 7 tekanan sosial yang membentuk realitas hidup perempuan.

RADARTUBAN - Perempuan kerap menghadapi berbagai tekanan sosial yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Mulai dari standar kecantikan hingga tuntutan peran ganda.

Berdasarkan sumber dari Geediting.com (9/8), berikut tujuh tekanan utama yang perlu dipahami untuk mencari solusi:

1. Standar Kecantikan Tidak Realistis

Media dan masyarakat kerap mempromosikan citra kecantikan yang sulit dicapai, memicu rasa tidak percaya diri, gangguan makan, hingga kecemasan.

2. Sindrom "Superwoman"

Perempuan diharapkan sukses secara karier sekaligus menjaga keharmonisan keluarga. Ekspektasi ini berisiko menyebabkan kelelahan fisik dan mental.

3. Kesenjangan Gaji

Diskriminasi upah masih terjadi meski kualifikasi setara dengan laki-laki, mengancam stabilitas finansial dan kesetaraan di dunia kerja.

4. Hukuman Keibuan (Motherhood Penalty)

Ibu bekerja sering dianggap kurang berdedikasi pada karier, menghambat promosi dan peluang profesional.

5. Beban Tenaga Emosional

Perempuan dituntut mengelola emosi diri dan orang sekitar, beban tak terlihat yang berpotensi memicu kelelahan mental.

6. Ancaman Kekerasan

Ketakutan akan pelecehan atau kekerasan membatasi kebebasan bergerak dan berdampak pada kesehatan psikologis.

7. Tekanan Usia

Perempuan kerap dipaksa menikah atau memiliki anak sebelum usia tertentu, memicu stres dan keputusan yang tidak diinginkan.

Perlu Perubahan Sistemik

Tekanan sosial ini bersifat struktural, sehingga solusinya memerlukan kesadaran kolektif.

Perempuan perlu didukung untuk menolak ekspektasi tidak adil, sementara masyarakat harus mengubah norma yang diskriminatif.

Dengan demikian, perempuan dapat meraih kemandirian tanpa dibebani stigma. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#standar kecantikan #beban #hukuman #kesenjangan gaji #sindrom #Emosional