RADARTUBAN - Membangun usaha secara mandiri menjadi impian banyak orang, termasuk first graduate Gen Z. Namun, berwirausaha merupakan keputusan gambling.
Sebab itu, tidak banyak generasi muda yang berani mengambil keputusan tersebut. Terlebih, bagi mereka yang tidak memiliki cukup modal dan “backingan” orang tua.
SM, 24, salah satu Gen Z yang bekerja di bidang formal mengatakan, membangun usaha secara mandiri adalah pilihan yang cukup sulit.
Karena itu, tidak banyak anak muda yang berani mengambil keputusan tersebut.
‘’Saya pun menyadari itu. Jujur, saya juga ingin membangun usaha sendiri. Namun, itu keputusan yang sulit. Karena itu, saya lebih memilih menjadi pekerja formal,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Disampaikan SM, meski pekerja formal lebih pada zona nyaman. Namun, baginya, keputusan menjadi pekerja formal itu lebih aman ketimbang gambling membangun usaha sendiri.
‘’Apalagi seperti saya ini, tidak memiliki cukup modal dan tidak memiliki “backingan” orang tua,’’ katanya jujur.
Lebih lanjut dia mengatakan, pekerjaan formal menawarkan gaji tetap dan tunjangan yang pastinya.
“Fasilitas” ini sulit didapatkan ketika memulai usaha sendiri, terutama pada tahap awal memulai bisnis.
‘’Kalau berbisnis cenderung memiliki ketidakpastian yang tinggi. Selain itu pendapatannya juga fluktuatif. Belum lagi biaya operasional dan potensi kegagalan, saya tidak siap dengan semua itu,’’ ujarnya. Dan sebab itu, dirinya sangat respect terhadap generasi muda seangkatannya yang berani membangun usaha sendiri.
SF, Gen Z lain yang bekerja di bidang formal juga mengamini bahwa pekerja di bidang informal merupakan keputusan yang sulit.
‘’Membuka lapangan pekerjaan bukan hanya membutuhkan ide yang kreatif saja, tapi juga modal, jaringan, dan juga keterampilan manajemen. Sementara saya tidak memiliki cukup kemampuan untuk memenuhi syarat-syarat tersebut,’’ katanya.
Sehingga memutuskan menjadi buruh perusahaan.
Lebih lanjut dia mengatakan, meski pekerjaannya terikat dengan syarat, ketentuan, dan waktu yang ditetapkan perusahaan, namun dirinya merasa nyaman.
‘’Apa pun pekerjaanya. Bagi saya, terpenting adalah rasa nyaman dan senang,’’ tandasnya. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama