Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dulu Buat Ujian, Kini Buat Hidup: Kalkulator dan Fase Kedewasaan

M. Afiqul Adib • Rabu, 20 Agustus 2025 | 20:20 WIB
Seiring dewasa, kalkulator berubah fungsi dari teman ujian ke alat waras finansial.
Seiring dewasa, kalkulator berubah fungsi dari teman ujian ke alat waras finansial.

RADARTUBAN - Dulu, kalkulator adalah benda sakral yang cuma keluar saat ujian matematika.

Dipakai buat ngitung akar kuadrat, logaritma, atau rumus-rumus yang bikin kepala berasap.

Kalau ketahuan nyelipin kalkulator di ujian tanpa izin, bisa langsung dicoret dari daftar peserta. Pokoknya, kalkulator itu alat akademik. Formal. Serius.

Tapi sekarang, setelah dewasa, kalkulator berubah fungsi. Bukan lagi buat ngitung soal, tapi buat ngitung hidup.

Dari Rumus ke Realitas

Kalkulator dewasa bukan soal X dan Y, tapi soal gaji dan cicilan. Gaji segini, bayar kos segitu, sisa berapa buat makan, buat pulsa, buat jajan, buat nabung (kalau sempat).

Kadang juga buat ngitung: “Kalau aku beli kopi Rp18.000 tiga kali seminggu, dalam sebulan habis berapa?”

Dan jawaban dari kalkulator itu kadang bikin kita menatap langit sambil bertanya: “Kenapa hidup ini mahal sekali?”

Kalkulator: Alat untuk Menyadari Bahwa Kita Nggak Kaya-Kaya Amat

Memakai kalkulator untuk menghitung kebutuhan adalah indikator fase dewasa.

Karena di titik ini, kita sadar bahwa uang itu terbatas, dan kebutuhan itu tidak pernah selesai.

Kita mulai bikin skema: “Kalau aku hemat di minggu pertama, bisa jajan di minggu ketiga.” Atau: “Kalau aku bayar BPJS sekarang, nanti pulsa harus ditunda.”

Kalkulator jadi alat untuk menata hidup. Untuk menghindari jebakan impulsif. Untuk memastikan bahwa kita nggak kehabisan uang di tanggal 17, padahal gajian masih tanggal 25.

Kalkulator dan Kewarasan Finansial

Di masa dewasa, kalkulator bukan cuma alat hitung, tapi alat waras.

Dia membantu kita melihat angka secara jujur. Membuat kita berhenti sejenak sebelum checkout keranjang belanja.

Membuat kita sadar bahwa diskon 30% tetap mahal kalau barangnya nggak dibutuhkan.
Kalkulator juga jadi teman curhat yang paling jujur.

Nggak bisa dibohongi, nggak bisa diajak kompromi. Kalau saldo tinggal Rp 42 ribu, ya segitu. Nggak bisa ditambah pakai harapan.

Baca Juga: Dari Standar Kecantikan hingga Kesenjangan Gaji, Ini 7 Tekanan Sosial yang Sering Dihadapi Perempuan

Kalkulator Adalah Simbol Kedewasaan yang Diam-Diam Menyakitkan

Jadi kalau kamu mulai sering buka kalkulator bukan buat ujian, tapi buat ngitung hidup, selamat. Kamu sudah masuk fase dewasa.

Fase di mana angka bukan lagi soal nilai ujian, tapi soal bertahan hidup.

Dan meski kadang hasilnya bikin nyesek, kalkulator tetap penting. Karena ia membantu kita menata, merencanakan, dan menerima kenyataan.

Bahwa hidup ini memang penuh hitungan. Dan kita harus cukup waras untuk menjalaninya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Rumus #cicilan #alat #gaji #dewasa #kalkulator