Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

4 Simbol Kedewasaan yang Datang Diam-Diam, Tanpa Kita Sadari

M. Afiqul Adib • Jumat, 22 Agustus 2025 | 21:10 WIB
Tumbuh dewasa tak selalu ditandai momen besar yang sering tidak disadari.
Tumbuh dewasa tak selalu ditandai momen besar yang sering tidak disadari.

RADARTUBAN - Kita sering membayangkan kedewasaan sebagai momen besar: lulus kuliah, menikah, punya anak, atau beli rumah.

Padahal, kedewasaan sering datang diam-diam, lewat kebiasaan kecil yang dulu kita anggap remeh. Tanpa seremoni, tanpa pengumuman, tahu-tahu kita sudah berubah.

Berikut adalah empat simbol kedewasaan yang tidak kita sadari, tapi pelan-pelan sudah jadi bagian dari hidup kita.

1. Rajin Menggunakan Kalkulator untuk Menghitung Kebutuhan

Dulu kalkulator dipakai buat ngitung rumus matematika.

Sekarang dipakai buat ngitung: gaji segini, bayar kos segitu, sisa berapa buat makan, buat pulsa, buat jajan, buat nabung (kalau sempat).

Kalkulator bukan lagi alat akademik. Dia jadi alat bertahan hidup.

Dan kadang, alat untuk menerima kenyataan bahwa kita nggak kaya-kaya amat.

Kalkulator jadi teman curhat yang paling jujur. Nggak bisa dibohongi, nggak bisa diajak kompromi. Kalau saldo tinggal Rp42.000, ya segitu. Nggak bisa ditambah pakai harapan.

2. Makin Akrab dengan Obat Masuk Angin

Dulu, masuk angin dianggap mitos. Sekarang, jadi musuh utama.

Tolak Angin, Antangin, minyak kayu putih, sampai koyo, semua jadi sahabat yang menemani sehari-hari.

Kita mulai paham bahwa tubuh ini bukan mesin. Sedikit kehujanan, telat makan, atau kebanyakan begadang bisa bikin badan ambruk.

Obat masuk angin bukan sekadar penyembuh, tapi simbol bahwa kita mulai peduli pada tubuh sendiri.

Bahwa kita nggak bisa lagi sok kuat. Bahwa istirahat dan perawatan bukan kemewahan, tapi kebutuhan.

3. Sudah Tidak Berani Makan Terlalu Pedas

Dulu, makan mie level 10 dianggap prestasi. Sekarang, makan sambal dua sendok aja udah mikir: “Besok perut aman nggak, ya?”

Meski sebenarnya lidah masih ingin berpetualang, tapi lambung sudah mulai pasang batas. Kita mulai memilih rasa yang nyaman, bukan yang menantang.

Ini bukan soal takut, tapi soal tahu batas. Kedewasaan adalah ketika kita tahu kapan harus berhenti, bahkan ketika mulut masih cukup asik untuk mengunyah sekali lagi.

4. Lebih Suka Anget-Angetan

Teh hangat, kopi hangat, air putih hangat, bahkan nasi yang baru matang—semua terasa lebih menenangkan.

Kita mulai meninggalkan es batu dan minuman dingin yang dulu jadi favorit. Bukan karena nggak suka, tapi karena tubuh mulai memberi sinyal: “Yang anget aja, ya.”

Iya, genre anget-angetan bukan cuma soal suhu, tapi soal kenyamanan after taste.

Kita mulai mencari yang bikin tenang, bukan yang bikin heboh. Dan tanpa kita sadari itu adalah bentuk kedewasaan yang paling pelan.

Yah, pada akhirnya kita tidak pernah diberi sertifikat “Selamat, Anda Sudah Dewasa.”

Tapi kita tahu kita sudah berubah saat mulai menghitung kebutuhan, membawa obat masuk angin, dan memilih teh hangat daripada es kopi susu.

Kedewasaan bukan soal usia, tapi soal cara kita menghadapi hidup—dengan kalkulator, minyak kayu putih, dan sedikit rasa pasrah.

Karena tumbuh dewasa bukan soal kehilangan keceriaan, tapi soal belajar menyeimbangkan antara bermain dan bertanggung jawab.

Dan kalau kamu sudah mulai suka anget-angetan, selamat. Kamu sudah dewasa. Meski belum tentu siap. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#kedewasaan #Rajin #kecil #simbol #tanda