RADARTUBAN – Hampir semua orang pernah larut dalam aktivitas menggulir media sosial tanpa henti. Awalnya hanya berniat lima menit saja, tapi kenyataannya bisa berjam-jam.
Rasa penasaran untuk terus menatap layar mirip seperti kecanduan makanan atau gim, selalu ada pertanyaan yang muncul di kepala: apa lagi setelah ini?
Studi Rowan Center for Behavioral Health (2022) menyebut, algoritma media sosial memang didesain agar pengguna terus bertahan. Konten yang muncul dibuat relevan, menarik, dan memicu rasa ingin tahu.
Namun di balik itu, dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Riset National Library of Medicine (2022) mengungkap bahwa semakin sering seseorang menggulir layar, semakin tinggi pula risiko stres, gangguan tidur, bahkan gejala depresi.
Baca Juga: Mengapa Scroll TikTok Bisa Berjam-jam, Tapi Baca Buku 10 Menit Ngantuk?
Kanal Psikologi UGM (2023) juga menjelaskan dari sisi neurosains, media sosial mengaktifkan sistem limbik otak yang berkaitan dengan emosi dan motivasi. Inilah yang membuat orang sulit mengendalikan diri untuk berhenti.
American Psychological Association (2022) menambahkan, multitasking digital akibat terlalu sering membuka media sosial dapat menurunkan produktivitas hingga 40 persen.
Otak dipaksa berulang kali mengalihkan fokus sehingga kerja tidak maksimal.
Psikolog menekankan pentingnya mengatur waktu penggunaan media sosial agar tetap sehat.
Membuka aplikasi dengan tujuan yang jelas akan membuat seseorang lebih mudah mengendalikan diri.
Menghindari kebiasaan scroll di malam hari juga penting karena bisa merusak kualitas tidur.
Mengelola waktu di dunia digital bukan hanya soal menjaga kesehatan mental.
Lebih dari itu, keseimbangan antara aktivitas online dan interaksi nyata akan membuat hidup lebih fokus, produktif, dan tetap terkoneksi dengan orang-orang terdekat. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama