RADARTUBAN - Kesadaran manusia tentang kefanaan hidup seringkali menimbulkan rasa takut akan kematian.
Tidak seperti spesies lain, manusia memahami bahwa ajal adalah sesuatu yang tak bisa dihindari.
William James, yang dikenal sebagai bapak psikologi Amerika, bahkan menyebut kesadaran ini sebagai “cacing di inti” kehidupan.
Dari sinilah muncul Teori Manajemen Teror yang menjelaskan bahwa naluri mempertahankan hidup dipengaruhi oleh kecemasan akan kematian yang selalu membayangi.
Beragam Bentuk Rasa Takut Akan Kematian
Rasa takut akan kematian muncul dalam berbagai bentuk. Cara Santa Maria, komunikator sains sekaligus kandidat doktor psikologi klinis yang fokus pada perawatan akhir hayat, menjelaskan:
“Sebagian orang takut akan ketiadaan. Ada juga yang takut pada proses kematian — rasa sakit, ketidakberdayaan. Ada yang takut meninggalkan orang-orang yang mereka cintai. Mereka takut meninggalkan sesuatu yang belum selesai. Takut tidak memiliki warisan. Ada begitu banyak cara berbeda kita bisa merasa takut pada kematian.”
Survei pun menunjukkan bahwa banyak orang cemas karena membayangkan harus meninggalkan keluarga atau melalui proses sekarat yang menyakitkan.
Meski demikian, sejumlah faktor seperti kesehatan fisik yang baik, keberadaan pasangan, hingga keyakinan religius dapat membantu meredakan rasa khawatir tersebut.
Ketika Rasa Takut Menjadi Thanatophobia
Pada sebagian orang, rasa takut akan kematian bisa berkembang menjadi kondisi serius yang disebut thanatophobia.
Ketakutan ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan memicu kecemasan berlebihan.
Menurut Santa Maria, rasa takut terhadap kematian sebenarnya normal, tetapi ketika sudah mendominasi hidup seseorang, langkah terapi sangat diperlukan.
Terapi Perilaku Kognitif Sebagai Solusi
Salah satu cara paling efektif untuk mengatasi thanatophobia adalah melalui terapi perilaku kognitif.
Dalam metode ini, seorang terapis akan membantu klien menantang asumsi yang memicu rasa cemas, lalu secara bertahap memperkenalkan paparan terkait kematian.
Paparan ini bisa berupa menonton film dengan adegan akhir hayat, membaca materi hospice, hingga menyusun rencana pribadi untuk menghadapi ajal.
Menurut terapis klinis Brittney Chesworth, klien yang menjalani terapi perilaku kognitif “secara bertahap akan melihat kematian sebagai bagian normal dari kehidupan, bukan lagi sebagai ‘monster menakutkan di dalam lemari.’”
Dengan begitu, kematian dipandang bukan lagi sebagai momok, melainkan bagian alami dari perjalanan manusia.
Sadar
Kesadaran akan kematian memang bisa menimbulkan kecemasan, namun memahami konsep Teori Manajemen Teror, mengenali kondisi thanatophobia, serta menjalani terapi perilaku kognitif dapat membantu kita menerima bahwa kematian adalah sesuatu yang wajar.
Pada akhirnya, menerima rasa takut akan kematian justru bisa membuat hidup lebih bermakna. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni