RADARTUBAN - Relationship anxiety atau kecemasan dalam hubungan menjadi isu yang semakin diperhatikan para ahli kesehatan mental.
Kondisi ini ditandai dengan keraguan, rasa takut, hingga kekhawatiran berlebihan terkait hubungan yang dijalani.
Orang dengan kecemasan ini kerap menuntut kepastian dari pasangannya, bahkan sampai mengabaikan kebutuhan atau keinginan pribadi demi menyenangkan pasangan.
Meski sudah banyak disadari tenaga kesehatan, relationship anxiety belum tercatat secara resmi dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).
Melansir Medical News Today, para pakar menilai kondisi ini mirip dengan gangguan kecemasan sosial, terutama dalam hal ketakutan akan penolakan.
Bedanya, dalam konteks romantis atau persahabatan, kecemasan berkembang menjadi rasa takut berlebihan yang membuat seseorang kesulitan menikmati bahkan mempertahankan hubungan.
Tidak jarang, penderita memilih mengakhiri hubungan karena rasa takut, atau tetap bertahan tetapi dibayangi tingkat kecemasan tinggi.
Menurut jurnal PsycNet, ada tiga gejala utama relationship anxiety, yaitu :
1. Kebutuhan akan Kepastian Berlebihan
Individu terus-menerus menuntut jaminan cinta atau komitmen pasangan. Hal ini biasanya dipicu oleh ketergantungan pada validasi dan penerimaan orang lain.
2. Menekan Diri Sendiri (Self-silencing)
Penderita cenderung menghindari untuk mengungkapkan perasaan, pendapat, atau keinginannya, terutama ketika berbeda dengan pasangan.
Langkah ini diambil untuk menghindari konflik, meski berisiko menurunkan kepuasan dalam hubungan.
3. Penyesuaian Berlebihan terhadap Pasangan
Pasangan orang yang mengalami kecemasan kerap ikut menyesuaikan diri secara tidak sehat, seperti selalu menuruti keinginan atau memberi kelonggaran berlebihan, yang justru memperkuat lingkaran kecemasan.
Para ahli menyebut, meskipun tidak ada diagnosis resmi, penanganan relationship anxiety dapat mengikuti metode terapi kecemasan.
Beberapa pendekatan yang bisa dilakukan antara lain terapi pasangan, psikoedukasi, komunikasi terbuka, hingga latihan mindfulness untuk mengurangi pikiran negatif.
Jika kecemasan semakin mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan psikolog atau terapis disarankan agar individu mampu membangun hubungan yang lebih sehat dan seimbang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni