Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tradisi Pernikahan di Indonesia: Sehari, Seminggu, atau Sejam Tetap Bermakna

M. Afiqul Adib • Rabu, 10 September 2025 | 19:05 WIB

 

Ilustrasai pernikahan Jawa.
Ilustrasai pernikahan Jawa.

RADARTUBAN - Pernikahan di Indonesia bukan cuma soal ijab kabul. 

Dia adalah peristiwa sosial, budaya, spiritual, dan kadang juga logistik. Dan menariknya, tradisi pelaksanaan pernikahan di berbagai daerah bisa sangat beragam.

Ada yang dimulai sejak pagi dan baru selesai malam hari.

Ada yang berlangsung berhari-hari, lengkap dengan prosesi adat, kirab, dan ritual turun-temurun. Tapi ada juga yang hanya berlangsung beberapa jam saja: efisien, padat, dan tetap sah.

Fenomena ini bukan soal mana yang lebih baik, tapi soal bagaimana masyarakat memaknai pernikahan.

Karena di balik durasi, ada nilai yang ingin dijaga. Ada harapan yang ingin dirayakan. Dan tentu saja, ada anggaran yang ingin disesuaikan.

Pernikahan Sehari Suntuk: Dari Akad Sampai Dangdutan

Di banyak kampung, pernikahan adalah hajatan besar. Akad nikah pagi, resepsi siang, lalu malamnya ada hiburan.

Bisa dangdut, bisa organ tunggal, bisa juga qosidah modern.

Tamu datang bergelombang, dari tetangga dekat sampai saudara jauh yang baru muncul setelah 10 tahun. Semua disambut, semua diberi berkat.

Model ini bukan cuma soal meriah, tapi soal silaturahmi. Karena pernikahan adalah momen langka di mana semua orang bisa berkumpul.

Maka, sehari suntuk pun dijalani dengan senang hati. Meski capek, tapi puas.

Pernikahan Berhari-Hari: Adat, Ritual, dan Warisan Budaya

Di beberapa daerah, pernikahan bisa berlangsung tiga hari bahkan seminggu. Ada prosesi siraman, midodareni, seserahan, temu manten, hingga ngunduh mantu.

Setiap hari punya makna, punya urutan, dan tentu saja, punya konsumsi.

Tradisi ini bukan soal pamer, tapi soal menjaga warisan. Karena pernikahan bukan hanya soal dua orang, tapi soal dua keluarga, dua kampung, bahkan dua budaya yang bertemu.

Maka, waktu yang panjang adalah cara untuk memberi ruang pada semua nilai itu.

Pernikahan Singkat: Efisien Tapi Tetap Sakral

Di era sekarang, banyak pasangan memilih pernikahan yang singkat. Akad nikah di pagi hari, makan siang bersama keluarga, lalu selesai.

Tidak ada resepsi besar, tidak ada hiburan, tapi tetap sah dan penuh makna.

Model ini cocok untuk mereka yang ingin fokus pada kehidupan setelah menikah, bukan pada seremoni.

Dan ini bukan berarti kurang hormat, tapi justru bentuk kesadaran bahwa pernikahan bukan soal durasi, tapi soal kesiapan.

Penutup: Yang Penting Sah, Bukan Lama

Tradisi pelaksanaan pernikahan memang beragam. Tapi semua punya tujuan yang sama: menyatukan dua insan dalam ikatan yang sah dan bermakna.

Mau sehari, seminggu, atau sejam, semua sah selama ada ijab kabul dan niat baik.

Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan berapa lama acaranya, tapi berapa lama cintanya bisa bertahan. Dan kalau bisa bertahan seumur hidup, maka pernikahan itu sudah lebih dari cukup. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#ijab kabul #pernikahan #Indonesia