RADARTUBAN - Di tengah gempuran budaya resepsi mewah, dekorasi estetik, dan prewedding yang harus ada drone-nya, muncul satu fenomena yang diam-diam makin populer: menikah di KUA.
Iya, Kantor Urusan Agama. Tempat yang dulu dianggap “terlalu sederhana” kini justru jadi pilihan strategis, terutama bagi pasangan muda dari generasi Z.
Bukan karena mereka anti-romantis. Justru sebaliknya. Gen Z tahu betul bahwa cinta itu penting, tapi cicilan juga nggak kalah penting.
Mereka tumbuh di era ekonomi yang menantang: harga properti melambung, biaya hidup makin tinggi, dan pekerjaan kadang lebih banyak janji daripada gaji.
Maka, menikah di KUA bukan sekadar hemat, tapi juga bentuk perlawanan terhadap standar sosial yang makin mahal.
Baca Juga: Nino Fernandez Keceplosan Sebut Hubungannya dengan Steffi Zamora Sudah Sah, Sudah Resmi Menikah?
Menikah Tanpa Utang, Bahagia Tanpa Pelaminan
Menikah di KUA itu sah secara hukum dan agama.
Bahkan gratis, selama dilakukan di hari dan jam kerja, serta di kantor KUA setempat.
Tanpa biaya, tanpa ribet, dan tetap sakral.
Bagi Gen Z yang lebih memilih alokasi tabungan untuk kehidupan setelah pernikahan—seperti DP rumah, modal usaha, atau dana darurat—ini adalah opsi yang masuk akal.
Mereka tidak anti pesta, tapi tahu bahwa pesta bukan segalanya. Karena setelah hari H, yang tersisa bukan dekorasi, tapi tagihan.
Maka, daripada menghabiskan puluhan juta untuk satu hari, mereka memilih menginvestasikan uangnya untuk masa depan.
Rasional? Iya. Tapi tetap romantis, karena mereka memilih cinta yang berkelanjutan, bukan sekadar viral.
Menikah Tanpa Viral, Tapi Tetap Bermakna
Di era media sosial, pernikahan sering kali dinilai dari visual: gaun pengantin, venue, jumlah tamu, dan tentu saja—jumlah likes.
Tapi Gen Z mulai sadar bahwa makna tidak selalu harus tampil. Menikah di KUA mungkin tidak punya backdrop bunga-bunga, tapi punya ketenangan.
Tidak ada tekanan untuk tampil sempurna, tidak ada drama vendor, dan tidak ada utang yang menghantui.
Bahkan beberapa pasangan memilih untuk menikah di KUA dulu, lalu resepsi menyusul kalau dananya sudah cukup.
Atau malah tidak resepsi sama sekali, dan menggantinya dengan makan siang sederhana bersama keluarga. Yang penting sah, yang penting saling.
Menikah dengan Akal Sehat
Fenomena menikah di KUA adalah bukti bahwa Gen Z tidak anti tradisi, tapi mereka menyesuaikan.
Mereka tidak menolak sakralitas, tapi menolak tekanan sosial yang tidak relevan. Mereka memilih pernikahan yang sesuai dengan kondisi, bukan dengan ekspektasi orang lain.
Dan kalau ada yang bilang menikah di KUA itu “kurang wah,” mungkin perlu diingat: yang paling penting dari pernikahan bukan pesta, tapi perjalanan.
Dan perjalanan itu lebih baik dimulai dengan akal sehat, bukan dengan utang. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama