RADARTUBAN - Dalam upaya menyejukkan ruangan yang panas, kipas angin dan AC (pendingin udara) adalah dua pilihan populer yang sering digunakan masyarakat.
Namun, terkait penggunaan listrik, mana yang sebenarnya lebih hemat kipas angin atau AC?
Dikutip dari Informasi Kompas, Menurut Benjamin Uscilla, teknisi HVAC berlisensi dan pemilik Evergreen Heating & Cooling, biaya operasional kipas angin jauh lebih rendah dibandingkan AC.
Uscilla menjelaskan bahwa penggunaan kipas angin selama 24 jam dalam satu bulan rata-rata menelan biaya sekitar 10 Dollar AS atau setara Rp 164.911.
Sebaliknya, pengoperasian sistem AC terpusat bisa menghabiskan biaya mencapai antara 125 hingga 200 Dollar AS per bulan, atau sekitar Rp 2.061.389 hingga Rp 3.298.223.
Perbedaan besar ini disebabkan oleh konsumsi daya listrik keduanya yang berbeda signifikan.
Unit AC rata-rata memerlukan daya 1 kilowatt per jam, sementara kipas angin hanya menggunakan daya sekitar 30 sampai 70 watt.
Dengan tarif listrik 0,30 Dollar AS per kWh (sekitar Rp 4.947 per kWh), biaya penggunaan kipas angin pun jauh lebih murah.
Contohnya, AC kecil dengan daya 1 kWh bisa menghabiskan biaya sekitar Rp 4.947 per jam.
Sehingga dalam sebulan biaya listriknya bisa mencapai lebih dari tiga juta rupiah, 20 kali lipat lipat lebih besar dibanding kipas angin yang hanya menghabiskan sekitar Rp 164 ribu per bulan.
Meski kipas angin lebih hemat listrik, perlu diingat bahwa AC memiliki kelebihan dalam hal kemampuan menurunkan suhu ruangan secara signifikan sehingga memberikan efek sejuk yang lebih nyata dibandingkan angin dari kipas angin yang hanya menggerakkan udara tanpa mendinginkannya.
Oleh karena itu, pilihan antara kipas angin atau AC sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi ruangan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama