Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Logika Sosial di Balik Amplop Pernikahan: Buwuh, Nyumbang, dan Hitung-Hitungan yang Tak Tertulis

M. Afiqul Adib • Sabtu, 13 September 2025 | 04:05 WIB
Ilustrasi amplop dan kado buwuhan.
Ilustrasi amplop dan kado buwuhan.

RADARTUBAN - Setiap kali musim pernikahan tiba, ada satu kebiasaan yang tak pernah absen dari masyarakat Indonesia: nyumbang.

Di beberapa daerah disebut buwuh, di tempat lain disebut sumbangan, tapi intinya sama, memberi sesuatu kepada pasangan pengantin, biasanya dalam bentuk uang, kadang juga kado.

Tradisi ini sudah berlangsung lama, dan meski tampak sederhana, ia menyimpan logika sosial yang cukup kompleks.

Bagi sebagian orang, nyumbang adalah bentuk solidaritas.

“Dulu saya dikasih, sekarang saya ngasih.”

Ada semacam sistem timbal balik yang tidak tertulis, tapi dijalankan dengan konsisten. Bahkan ada yang menyimpan catatan buwuh dari tahun ke tahun, lengkap dengan nominal dan nama pemberi.

Bukan karena pelit, tapi karena ingin menjaga keseimbangan sosial. Kalau dulu dikasih Rp100 ribu, sekarang harus ngasih minimal segitu. Kalau bisa malah lebih.

Namun, tidak semua orang melihat buwuh sebagai hal ringan. Ada juga yang merasa terbebani, terutama jika undangan datang bertubi-tubi dan kondisi keuangan sedang tidak ideal.

Di sinilah muncul dilema: antara ingin menghormati tradisi dan menjaga hubungan sosial, atau menjaga dompet agar tidak ikut resepsi.

Kado vs Uang: Mana yang Lebih Masuk Akal?

Di tengah kebiasaan buwuh, ada pula yang memilih memberi kado. Biasanya karena merasa dekat dengan pengantin, atau ingin memberi sesuatu yang lebih personal.

Kado bisa berupa barang rumah tangga, buku, bahkan tanaman hias. Tapi tentu saja, risiko kado adalah tidak selalu sesuai kebutuhan.

Bisa jadi pengantin dapat lima set teko, padahal lagi butuh rice cooker.

Karena itu, banyak yang tetap memilih memberi uang. Alasannya sederhana: fleksibel dan pasti kepakai.

Uang bisa dipakai untuk bayar katering, sewa tenda, atau bahkan untuk modal hidup setelah menikah.

Dan di era sekarang, amplop uang dianggap lebih praktis dan aman secara logistik.

Logika Matematikanya: Bukan Sekadar Nominal

Meski tidak ada aturan resmi, buwuh punya logika matematikanya sendiri. Biasanya dihitung berdasarkan kedekatan, status sosial, dan lokasi acara.

Kalau acaranya di gedung, nominalnya cenderung lebih tinggi. Kalau di rumah, bisa lebih fleksibel.

Kalau dekat secara emosional, bisa lebih besar. Kalau sekadar kenal lewat grup RT, cukup standar.

Dan meski tidak ada yang memaksa, ada tekanan sosial yang halus. Kita ingin memberi yang “layak,” tapi juga tidak ingin berlebihan.

Maka, buwuh menjadi semacam kalkulasi sosial: antara rasa, logika, dan kemampuan.

Tradisi yang Perlu Dimaknai Ulang

Buwuh atau nyumbang adalah tradisi yang lahir dari semangat gotong royong. Ia bukan sekadar amplop, tapi simbol partisipasi dan dukungan.

Namun, di tengah perubahan zaman dan tantangan ekonomi, tradisi ini perlu dimaknai ulang. Bukan untuk dihapus, tapi untuk disesuaikan.

Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan nominalnya, tapi niatnya. Dan kalau niatnya baik, bahkan kado sederhana pun bisa jadi kenangan yang tak ternilai. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#timbal balik #buwuhan #ekonomi #solidaritas #nyumbang #logika