RADARTUBAN- Trust issue adalah saat seseorang merasa sangat sulit untuk mempercayai orang lain, biasanya karena pernah terluka di masa lalu entah itu karena dikhianati, ditinggalkan, atau mengalami hubungan yang penuh trauma.
Luka-luka itu meninggalkan jejak yang membuat hati jadi waspada, bahkan terhadap orang yang berniat baik.
Ketakutan akan disakiti lagi, dikecewakan, atau ditinggalkan sering kali mengambil alih, membuat hubungan jadi penuh keraguan dan jarak emosional.
Kondisi ini bisa berdampak besar pada kualitas hubungan seseorang bukan cuma dalam percintaan, tapi juga dalam persahabatan dan kehidupan sosial secara keseluruhan.
Ketika rasa percaya sulit dibangun, muncul kecemasan yang tak kunjung reda, kecurigaan yang terus menghantui, dan kesulitan untuk benar-benar terhubung secara emosional dengan orang lain.
Menurut Alodokter, trust issue sering kali berakar dari pengalaman pahit di masa lalu seperti dikhianati, diabaikan, atau terjebak dalam konflik yang menyakitkan dengan orang-orang terdekat.
Luka-luka itu tak selalu terlihat, tapi dampaknya bisa sangat dalam.
Halodoc juga menyebutkan bahwa tanda-tanda trust issue sering muncul secara perlahan, nyaris tak disadari.
Menurut Halodoc, orang yang mengalami trust issue sering kali terlihat waspada sepanjang waktu.
Mereka cenderung mudah merasa curiga, bahkan terhadap hal-hal kecil yang bagi orang lain mungkin tak berarti apa-apa.
Gejala Trust Issue dalam Hubungan
1. Selalu berasumsi buruk
Orang yang mengalami trust issue sering kali memandang tindakan orang lain dengan kacamata curiga.
Bahkan ketika tak ada alasan yang jelas, pikiran mereka bisa dipenuhi prasangka negatif bukan karena ingin bersikap buruk, tapi karena hati mereka pernah terluka dan kini mencoba melindungi diri.
2. Takut ditinggalkan
Kadang, ada rasa cemas yang begitu besar takut ditolak, takut ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi.
Perasaan itu bisa muncul tiba-tiba, bahkan ketika semuanya tampak baik-baik saja.
Pikiran pun mulai berputar tanpa henti, membayangkan skenario terburuk yang belum tentu terjadi.
Ini yang disebut overthinking, dan sering kali akarnya berasal dari pengalaman emosional di masa lalu yang belum benar-benar sembuh.
3. Waspada berlebihan
Meski niatnya mungkin untuk merasa aman, sikap seperti ini justru bisa membuat pasangan merasa tidak bebas, seolah-olah selalu diawasi dan tidak dipercaya.
Lama-lama, hubungan pun bisa terasa sesak, bukan karena kurang cinta, tapi karena terlalu banyak ketakutan yang belum diurai.
4. Menjauh dari komitmen
Ini adalah bentuk perlindungan diri, semacam tameng yang dibangun agar rasa sakit tak datang kembali.
Namun, tanpa disadari, tembok yang dibangun untuk melindungi itu justru bisa menghalangi kebahagiaan yang sejatinya mereka cari.
5. Mencari bantuan profesional
Konseling atau psikoterapi bisa menjadi ruang aman untuk memahami akar dari luka yang selama ini terpendam.
Trust issue bukanlah sesuatu yang harus disimpan rapat-rapat dan dipikul sendirian.
Justru, dengan mulai mengenali gejalanya sejak awal dan mencoba langkah-langkah pemulihan, seseorang bisa perlahan membuka kembali ruang untuk percaya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni