RADARTUBAN - Ambisi itu wajar. Kita semua punya dorongan untuk tumbuh, berkembang, dan meraih sesuatu yang lebih baik dalam hidup.
Itu bagian dari naluri manusia yang ingin jadi versi terbaik dari diri sendiri.
Tapi menurut para psikolog, ada garis tipis yang memisahkan ambisi yang sehat dari ambisi yang justru bisa merugikan.
Tapi kalau tidak kita kendalikan, ambisi yang terlalu besar bisa jadi pedang bermata dua.
Bukannya membawa kebahagiaan, malah menimbulkan tekanan yang tak terlihat, merusak hubungan dengan orang-orang terdekat, dan perlahan menggerogoti kesehatan mental.
Jadi, bagaimana kita tahu kalau ambisi sudah mulai kelewat batas?
Biasanya, ada beberapa tanda yang bisa kita rasakan misalnya, terus-menerus merasa tidak pernah cukup, sulit menikmati pencapaian sendiri, atau mulai mengorbankan waktu bersama orang terdekat demi tujuan yang belum tentu membawa kebahagiaan.
Baca Juga: Ambisi Erik ten Hag Bertahan 10 Tahun di Manchester United, Harapan dan Mimpi Yang Pupus Seketika
Apa itu Ambisi Berlebihan?
Menurut psikolog Intan Erlita, ambisi itu sebenarnya bisa jadi bahan bakar yang luar biasa untuk mendorong kita berkembang, belajar, dan melangkah lebih jauh.
Tapi ada satu hal yang perlu diwaspadai ketika seseorang mulai menggantungkan seluruh nilai dirinya hanya pada pencapaian, ambisi bisa berubah arah.
“Ambisi yang tidak sehat biasanya membuat seseorang merasa tidak pernah cukup, meskipun sudah meraih banyak hal,” ujar Intan Erlita dalam unggahan kontennya di TikTok.
Kalimat itu terasa dekat dengan kenyataan banyak orang.
Tanda-Tanda Orang dengan Ambisi Terlalu Besar
Beberapa psikolog dan praktisi yang aktif membahas isu ini di media sosial seperti akun @asmarandhany.talks dan @assessmeid menyoroti sejumlah tanda yang sering muncul pada orang dengan ambisi berlebihan.
1. Perfeksionis ekstrem
Orang yang punya ambisi besar sering kali sulit merasa puas, bahkan ketika hasil kerja mereka sebenarnya sudah sangat baik.
Ada dorongan terus-menerus untuk mencari celah, memperbaiki, dan menyempurnakan segalanya.
2. Mengorbankan kesehatan
Mereka cenderung memaksakan diri terus produktif, bahkan ketika tubuh dan pikiran sudah memberi sinyal untuk beristirahat.
Akibatnya, bukan hanya rasa lelah biasa yang muncul, tapi juga stres berkepanjangan, kelelahan kronis, hingga burnout yang bisa mengganggu kualitas hidup secara keseluruhan.
3. Membandingkan diri terus-menerus
Sonny Abikim, seorang content creator yang kerap membahas isu psikologi, pernah menyoroti satu kebiasaan yang sering muncul pada orang dengan ambisi berlebihan: membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.
Tanpa disadari, kebiasaan ini bisa jadi racun pelan-pelan. Kita mulai merasa iri, cemas, bahkan meragukan diri sendiri, meskipun sudah punya banyak hal yang patut disyukuri.
Alih-alih fokus pada perjalanan pribadi, kita malah sibuk menilai diri lewat standar orang lain dan itu bisa sangat melelahkan secara emosional.
4. Sulit menikmati proses
Daripada menikmati setiap proses dan momen kecil dalam perjalanan hidup, orang yang terlalu ambisius sering kali hanya terpaku pada garis finish.
Mereka menilai keberhasilan dari hasil akhir semata, dan ketika gagal, rasanya seperti aib yang harus disembunyikan bukan pengalaman berharga yang bisa dipelajari. (*)
Editor : radar tuban digital