Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Melatih Mindfulness di Era Sosmed: Biar Pikiran Nggak Terus Dikejar Notifikasi

M. Afiqul Adib • Rabu, 24 September 2025 | 19:19 WIB
Ilustrasi mindfllness.
Ilustrasi mindfllness.

RADARTUBAN - Di era sosial media yang serba cepat, kita sering merasa harus selalu hadir.

Selalu update, selalu responsif, dan selalu tahu apa yang sedang viral.

Bangun tidur langsung buka ponsel, sebelum tidur masih sempat scroll komentar orang yang bahkan tidak kita kenal.

Pikiran jadi penuh, hati jadi sesak, dan tubuh pun ikut lelah.

Di tengah semua itu, muncul satu konsep yang layak dicoba: mindfulness.

Mindfulness bukan tren baru.

Praktik ini bukan sekadar meditasi dengan musik hening dan aroma lavender.

Mindfulness adalah praktik kuno yang mengajarkan kita untuk hadir sepenuhnya, sadar terhadap apa yang sedang terjadi, dan tidak terburu-buru bereaksi.

Dalam bahasa sederhana: berhenti sebentar, tarik napas, dan benar-benar merasakan hidup.

Mindfulness Bukan Gaya Hidup Elit

Banyak orang mengira mindfulness itu gaya hidup orang kaya.

Identik dengan yoga, kristal, warna biru kehijauan, dan kombucha.

Padahal, esensinya sangat membumi.

Mindfulness bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, tanpa alat khusus.

Cukup duduk tenang, perhatikan napas, dan biarkan pikiran lewat tanpa harus ditangkap.

Bahkan, semakin sering kita melatih mindfulness, kita akan bisa memilih kapan harus mengistirahatkan pikiran.

Kita jadi tahu kapan harus berhenti membaca berita buruk, kapan harus rehat dari drama medsos, dan kapan harus bilang “cukup dulu” pada diri sendiri.

Mindfulness di Tengah Sosmed

Melatih mindfulness di era sosial media memang tantangan tersendiri.

Notifikasi datang tanpa henti, algoritma terus menggoda, dan rasa FOMO (fear of missing out) makin kuat.

Tapi justru karena itulah mindfulness jadi penting.

Praktik ini membantu kita memilih perhatian.

Kita jadi sadar bahwa tidak semua hal harus direspons, tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua komentar harus dibaca.

Mindfulness bukan soal menjauh dari dunia digital, tapi soal tahu kapan harus hadir dan kapan harus mundur.

Praktik ini memberi kita kuasa atas hidup sendiri, bukan hidup yang dikendalikan oleh algoritma.

Kenapa WNI Perlu Mindfulness?

Sebagai WNI yang hidup di tengah tekanan sosial, ekonomi, dan budaya, kita sering kali merasa harus kuat terus.

Harus kerja keras, harus sabar, harus tahan banting.

Tapi di balik semua itu, kita juga butuh ruang untuk tenang.

Mindfulness bisa jadi cara untuk merawat diri, tanpa harus pergi jauh atau bayar mahal.

Tokoh-tokoh besar seperti Oprah, Marc Benioff, dan Ray Dalio sudah mempraktikkannya untuk meredakan stres.

Tapi bukan berarti mindfulness hanya untuk mereka.

Justru kita, yang hidup dengan ritme cepat dan tekanan harian, lebih butuh ruang untuk berhenti sejenak.

Hadir Sepenuhnya, Meski Hanya Sebentar

Mindfulness bukan solusi instan.

Tapi kegiatan ini bisa jadi teman yang membantu kita bertahan.

Di tengah dunia yang makin bising, kemampuan untuk hadir sepenuhnya, meski hanya lima menit merupakan bentuk kekuatan.

Jadi, luangkan waktu setiap hari.

Duduk tenang, tarik napas, dan izinkan diri sendiri untuk tidak sibuk dulu.

Karena kadang, yang kita butuhkan bukan jawaban, tapi jeda. (*)

Editor : radar tuban digital
#Tekanan sosial #gaya hidup #Meditasi #bangun tidur #Tenang #merawat diri #hidup #ruang #mengistirahatkan pikiran #jeda #Mindfulness #ponsel #dunia digital