RADARTUBAN - Banyak orang masih keliru membedakan antara selfish dan self-love. Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar yang bisa berdampak besar terhadap kesehatan mental maupun kualitas hubungan sosial.
Sifat selfish atau egois cenderung merugikan, sementara self-love justru penting untuk menjaga keseimbangan diri.
Apa Itu Selfish?
Selfish, atau dalam bahasa Indonesia berarti egois, adalah sifat yang membuat seseorang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli pada orang lain.
Orang dengan karakter ini kerap bertindak demi kepentingan pribadi, bahkan tanpa memikirkan dampak tindakannya terhadap orang lain.
Sifat selfish dapat muncul dalam berbagai situasi, mulai dari keputusan kecil sehari-hari hingga persoalan dalam hubungan.
Jika tidak terkendali, sikap ini bisa merusak hubungan interpersonal, memicu konflik, dan menghambat kerja sama tim.
Padahal, komunikasi dan kolaborasi justru dibutuhkan untuk menciptakan hubungan yang sehat, baik di lingkup personal maupun profesional.
Ciri-Ciri Selfish
Ada sejumlah tanda yang menunjukkan sifat egois dalam diri seseorang. Beberapa di antaranya adalah:
1. Menghindari tanggung jawab, misalnya menyerahkan seluruh beban pekerjaan rumah tangga pada pasangan tanpa mau ikut berkontribusi.
2. Selalu mementingkan diri sendiri, tanpa peduli kondisi orang lain.
3. Memiliki sedikit teman karena tidak mampu berkompromi dalam hubungan.
4. Sulit menerima penolakan, bahkan bisa marah atau frustasi jika keinginannya tidak terpenuhi.
5. Cenderung bersikap kasar akibat kurangnya empati.
6. Tidak peduli meski tindakannya menyakiti orang lain.
7. Lebih banyak membicarakan diri sendiri daripada mendengarkan orang lain.
8. Jarang mengucapkan terima kasih atau membalas kebaikan orang lain.
9. Tidak suka berbagi karena merasa semua yang dimiliki adalah hasil jerih payah pribadi.
Sifat-sifat tersebut bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah besar dalam hubungan sosial dan pekerjaan.
Baca Juga: Ambisi yang Terlalu Tinggi: Dampaknya pada Hidup dan Kesehatan Mental
Perbedaan Selfish dan Self-Love
Meski terdengar mirip, selfish dan self-love sebenarnya punya perbedaan besar.
Selfish biasanya lahir dari rasa takut, kurang percaya diri, atau kebutuhan akan perhatian.
Sebaliknya, self-love muncul dari rasa sayang pada diri sendiri sekaligus rasa bahagia ketika melihat orang lain juga merasa senang.
Dari segi sikap, orang selfish cenderung hanya peduli pada kepentingan pribadi dan mau dekat dengan orang lain kalau ada untungnya.
Berbeda dengan self-love yang justru membuat seseorang lebih tulus, murah hati, dan nggak selalu mikirin keuntungan diri sendiri.
Perbedaan lain bisa dilihat saat menerima kritik. Sifat selfish bikin seseorang defensif dan menganggap kritik sebagai serangan.
Sedangkan dengan self-love, kritik dianggap sebagai masukan berharga untuk belajar dan memperbaiki diri.
Soal pandangan pun berbeda. Selfish membuat orang merasa selalu benar dan menutup diri dari pendapat lain.
Sementara self-love justru mengajarkan kesadaran bahwa semua orang punya kekurangan, sehingga opini orang lain tetap penting untuk dihargai.
Tips Menjaga Keseimbangan antara Kebutuhan Diri dan Empati sebagai berikut :
1. Mengenali kebutuhan dan kebahagiaan diri sendiri.
2. Menetapkan batasan dengan berani mengatakan “tidak” pada hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai diri.
3. Melatih empati dengan berusaha memahami sudut pandang orang lain.
4. Mengutamakan self-care, misalnya dengan olahraga, membaca, atau menghabiskan waktu dengan orang tercinta.
5. Memberi kontribusi positif kepada lingkungan sekitar.
6. Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, seseorang dapat tetap mencintai dirinya tanpa terjebak dalam sifat egois yang merugikan orang lain.
Dalam beberapa situasi, sifat egois yang terlalu dominan bisa berkembang menjadi persoalan serius.
Ketika sikap selfish mulai merusak hubungan dengan orang lain atau bahkan berdampak buruk pada kesehatan mental, langkah terbaik adalah mencari bantuan profesional.
Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain kesulitan mengendalikan perilaku egois, hubungan yang kerap diliputi ketegangan dan konflik, munculnya rasa bersalah atau malu atas tindakan tertentu, hingga gejala depresi maupun kecemasan.
Berkonsultasi dengan psikolog atau konselor dapat menjadi jalan keluar, karena mereka mampu membantu menemukan akar masalah sekaligus memberikan strategi efektif untuk memperbaiki pola pikir dan perilaku agar lebih sehat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni