Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Gen Z Terancam Miskin: Upah Rendah, Persaingan Kerja Ketat, dan Gaya Hidup Konsumtif Jadi Bom Waktu Finansial

Silva Ayu Triani • Jumat, 26 September 2025 | 12:05 WIB
Ilustrasi Pembayaran digital dengan QRIS
Ilustrasi Pembayaran digital dengan QRIS

RADARTUBAN - Generasi Z (Gen Z), yang kini mendominasi populasi usia produktif, dihadapkan pada tantangan finansial yang rumit.

Perpaduan antara sulitnya mencari pekerjaan, upah rendah, dan gaya hidup konsumtif membuat banyak dari mereka terancam terjerat kemiskinan.

Kondisi ini disorot dalam sebuah diskusi oleh financial advisor Rafi Hadif dan host Cherryl Hatumesen di kanal YouTube Cherryl Hatumesen yang tayang pada Jumat (9/5).

Menurut Rafi Hadif, ada dua faktor utama yang berkontribusi pada rendahnya daya beli generasi muda saat ini.

Yang pertama adalah kemudahan pembayaran digital. Dia menjelaskan, pembayaran dengan QRIS atau paylater menghilangkan upaya yang sebelumnya diperlukan untuk mengeluarkan uang.

Jika dulu seseorang harus ke ATM untuk menarik uang tunai, kini transaksi bisa dilakukan hanya dengan memindai kode di ponsel.

Kemudahan ini membuat pengeluaran menjadi lebih cepat dan kerap tidak disadari.

Selain itu, pasar tenaga kerja yang semakin penuh juga menjadi penyebab.

Data dari Menteri Ketenagakerjaan sebelumnya, Ida Fauziyah, menunjukkan bahwa banyaknya lulusan dengan keterampilan serupa memicu persaingan ketat, sehingga upah rata-rata pekerja muda, khususnya fresh graduate, berada jauh di bawah UMR Jakarta.

Meski begitu, tantangan terbesar bagi Gen Z bukan hanya soal mencari uang, melainkan membangun kebiasaan dalam mengelola keuangan. “Kalau kita ngomongin soal keuangan itu, untuk ngaturnya gampang, tapi yang susah apa? Membangun habit-nya,” tegas Rafi.

Banyak dari mereka sebenarnya sudah mengetahui teori budgeting, tetapi kesulitan menerapkannya secara konsisten.

Kebiasaan disiplin dinilai menjadi kunci, sebab tanpa itu, pengetahuan tentang keuangan tidak akan banyak berguna.

Sebelum memikirkan investasi, generasi muda disarankan memprioritaskan dua hal: mencari pemasukan sebanyak mungkin dan melakukan budgeting.

Tidak ada gunanya berinvestasi jika tidak ada dana yang bisa dialokasikan.

Paylater atau kartu kredit juga sebaiknya digunakan secara bijak, dengan cicilan tidak lebih dari 10% penghasilan, serta diarahkan untuk kebutuhan produktif seperti membeli perangkat kerja seperti laptop atau mengikuti kelas pengembangan diri.

“Saat kita beli barang yang menunjang pekerjaan kita, itu kita dianggapnya bukan pengeluaran, tapi pembelian aset,” ujar Rafi.

Mengenai fenomena "generasi sandwich", di mana seseorang menanggung beban finansial keluarga, Rafi justru menganggapnya sebagai sebuah berkah. 

Dia menceritakan kisah ayahnya yang berhasil mengelola keuangan keluarga dan memastikan anaknya tidak menjadi bagian dari generasi ini. 

Rafi juga menekankan pentingnya memprioritaskan biaya hidup daripada biaya gaya hidup, terutama bagi mereka yang memiliki tanggung jawab finansial ganda.

Fokus bukan pada uang yang pasti keluar, melainkan bagaimana mengelola sisa anggaran untuk masa depan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#qris #gaya hidup #PayLater #Pembayaran Digital #kemiskinan #transaksi digital #generasi Z #finansial #upah rendah