Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tutorial Bertahan Hidup Jika Profesimu Adalah Guru

M. Afiqul Adib • Jumat, 26 September 2025 | 18:49 WIB
Ilustrasi guru mengajar.
Ilustrasi guru mengajar.

RADARTUBAN - Kalau ada profesi di Indonesia yang selalu disuruh “ikhlas”, “sabar”, dan “jangan hitung-hitungan soal gaji”, maka jawabannya adalah guru.

Profesi yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa, memang seringkali jadi korban romantisasi.

Padahal, kenyataannya banyak guru yang gajinya benar-benar rata dengan tanah.

Bukan sekali atau dua kali guru dituntut mengabdi dengan penuh dedikasi.

Katanya mengajar itu panggilan hati, bukan urusan materi.

Tapi ya tetap saja, panggilan hati nggak bisa dipakai bayar listrik, beli beras, apalagi langganan Netflix.

Ini adalah masalah pelik nan klasik dan jika mau realistis, ketimbang terjebak di antara idealisme dan kenyataan, lebih baik menerapkan tutorial serius untuk bertahan hidup jika profesimu adalah guru.

Ini bukan panduan untuk jadi kaya raya, tapi minimal biar bisa tetap hidup, waras, dan nggak kelaparan. 

1. Cari Pekerjaan Tambahan

Sadar atau tidak, gaji guru seringkali nggak cukup buat nutup kebutuhan sebulan.

Itulah alasan mengapa banyak guru akhirnya merangkap profesi lain.

beberapa guru mengajar di dua sekolah, bahkan ada yang sampai tiga. 

Ada yang jadi guru ngaji sore hari, ada yang jadi pedagang kecil-kecilan, dan ada juga yang banting setir jadi admin media sosial.

Pada prinsipnya, jangan taruh semua telur di satu keranjang.

Kalau satu sumber penghasilan mepet, harus ada sumber lain yang bisa menopang.

Toh, pemerintah juga nggak bakal tiba-tiba ngasih insentif gede tanpa proses panjang dan melelahkan.

Jadi, daripada berharap pada janji-janji manis, lebih baik realistis mencari tambahan.

2. Makan di Kantin Sekolah

Ini tips paling receh, tapi paling berdampak manfaatnya.

Percaya atau tidak, kantin sekolah adalah penyelamat guru.

Di daerah saya misalnya, ketika harga gorengan di luar sudah di angka seribu rupiah, di kantin masih lima ratusan.

Di luar, es kopi bisa 5-7 ribu, tapi di kantin cukup 3 ribu rupiah saja.

Saya kira di sekolah lain juga hampir sama, kantin seringkali mematok harga yang sesuai kantong pelajar.

Bahkan kantong guru yang gajinya pas-pasan.

Jika kamu guru, tahanlah sejenak gejolak rasa hedonmu, asal perut keisi dan nggak bikin sakit perut, itu sudah cukup.

Kalau ada yang bilang makan di kantin itu kurang bergengsi, abaikan saja.

Sebab yang penting itu bertahan hidup.

3. Uninstall Aplikasi Pinjol dan Marketplace

Satu hal yang wajib dilakukan guru kalau ingin bertahan adalah menghindari godaan belanja online.

Jangan gampang tergoda diskon 90% atau promo serba seribu.

Ingat, ini panduan bertahan hidup, bukan panduan jadi konsumen yang suka foya-foya.

Apalagi pinjaman online (pinjol).

Sekali terjerat, bisa jadi bencana.

Banyak cerita guru yang akhirnya terjerat utang karena merasa “gaji bulan depan bisa nutup”.

Nyatanya, gaji itu sudah habis duluan sebelum sempat dipakai bayar cicilan.

Jadi, uninstall saja aplikasinya.

Hidup memang berat, tapi jangan ditambah berat dengan hal-hal duniawi yang sia-sia itu.

4. Tetaplah Hidup Sehat

Kesehatan itu mahal, sebab biaya sakit nggak pernah masuk akal.

Apalagi bagi guru yang tak punya BPJS dari sekolah.

Karena itu, sebisa mungkin jalani hidup sehat. 

Nggak perlu gym membership atau suplemen berharga jutaan, cukup dengan pola tidur teratur, makan secukupnya, dan olahraga ringan seperti jalan kaki 30 menit setiap harinya.

Ini cukup krusial.

Sebab sekali sakit, uang simpanan bisa ludes tanpa sisa.

Seperti kata pepatah, mencegah jauh lebih baik ketimbang mengobati.

Pada akhirnya, tutorial ini memang terdengar getir.

Tapi begitulah kenyataannya.

Jadi guru di Indonesia memang cukup pelik.

Harus pintar-pintar bertahan dengan sumber daya yang terbatas, sambil terus berharap akan ada perubahan sistem yang benar-benar berpihak.

Semoga suatu saat nanti, guru tidak lagi harus menyusun strategi bertahan hidup seperti ini.

Semoga ada empati nyata dari pemerintah, bukan sekadar kata-kata rayuan, “guru adalah pahlawan bangsa”.

Dan sampai hari itu tiba, mari terus bertahan dengan cara-cara sederhana. (*/lia)

Editor : radar tuban digital
#ikhlas #aplikasi #menopang #Godaan #pinjol #pahlawan tanpa tanda jasa #Admin media sosial #dituntut #pedagang kecil #dedikasi #profesi #Uninstal #bertahan hidup #mengajar #Mengabdi #guru #tidak cukup #marketplace #Menghindari