RADARTUBAN - Di era digital, profesi guru tak lagi terbatas pada ruang kelas.
Banyak guru kini merambah ke dunia konten kreator, membuat video pembelajaran, berbagi tips mengajar, bahkan mendokumentasikan aktivitas sekolah untuk ditayangkan di media sosial.
Di satu sisi, ini adalah bentuk inovasi.
Tapi di sisi lain, muncul pertanyaan yang tak kalah penting: apakah guru sebagai konten kreator justru merusak esensi profesi guru?
Pertanyaan ini bukan sekadar provokasi.
Ia lahir dari kegelisahan yang nyata.
Beberapa pihak mulai menyoroti praktik guru yang menjadikan siswa sebagai “bahan konten.”
Wajah siswa ditampilkan tanpa izin, capaian nilai diumbar ke publik, bahkan ada yang diminta berdrama di depan kamera demi engagement.
Siswa yang seharusnya mendapatkan layanan pendidikan, malah dijadikan pekerja tanpa bayaran dalam konten gurunya.
Antara Edukasi dan Eksploitasi
Menjadi guru konten kreator tentu tidak salah.
Banyak guru berhasil menyampaikan materi dengan cara yang kreatif dan menyenangkan lewat media digital.
Tapi garis batas antara edukasi dan eksploitasi kadang sangat tipis.
Ketika konten lebih fokus pada dramatisasi, pada “kelucuan” siswa, atau pada pencitraan pribadi guru, maka fungsi pendidikan bisa tergeser.
Apalagi jika siswa tidak diberi pilihan.
Tidak semua anak nyaman tampil di depan kamera.
Tidak semua orang tua setuju anaknya jadi bagian dari konten publik.
Dan ketika wajah, suara, atau ekspresi mereka tersebar di internet tanpa kontrol, maka hak-hak anak bisa terlanggar.
Pendidikan seharusnya memberi ruang aman, bukan panggung yang dipaksa.
Etika Digital dalam Dunia Pendidikan
Menjadi guru di era digital memang menuntut adaptasi.
Tapi adaptasi tidak berarti mengabaikan etika.
Guru tetap punya tanggung jawab untuk menjaga privasi siswa, memastikan konten yang dibuat tidak merugikan, dan menempatkan pendidikan sebagai tujuan utama.
Etika digital harus menjadi bagian dari refleksi profesi.
Bukan hanya soal apa yang boleh ditampilkan, tapi juga soal bagaimana konten itu berdampak pada siswa, pada orang tua, dan pada citra pendidikan itu sendiri.
Guru Tetap Guru, Bukan Sutradara
Guru boleh jadi konten kreator.
Tapi jangan sampai lupa bahwa tugas utama guru adalah mendidik, bukan mengarahkan adegan.
Siswa bukan pemeran tambahan, bukan bahan dagangan, dan bukan alat untuk mengejar popularitas.
Kalau konten bisa memperkuat proses belajar, silakan lanjutkan.
Tapi kalau konten justru menjadikan siswa sebagai komoditas, maka sudah saatnya kita bertanya: apakah ini masih pendidikan, atau sudah berubah jadi panggung yang kehilangan arah?
Karena guru yang baik bukan yang viral, tapi yang tahu kapan harus menyalakan kamera, dan kapan harus mematikan demi menjaga martabat muridnya. (*/lia)
Editor : radar tuban digital