Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Gen Z dan Multitasking Digital: Produktif atau Justru Merugikan?

Alifah Nurlias Tanti • Minggu, 28 September 2025 | 03:30 WIB
Generasi Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat.
Generasi Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat.

RADARTUBAN — Generasi Z lahir dan besar di era teknologi yang berkembang pesat. Sejak usia dini, mereka sudah akrab dengan smartphone, laptop, dan berbagai platform media sosial.

Sudah menjadi hal biasa bagi Gen Z mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik, membuka media sosial, atau menonton video di sela-sela aktivitas.

Meski terlihat seperti sedang mengerjakan banyak hal sekaligus, otak manusia sejatinya tidak dirancang untuk itu.

Yang sebenarnya terjadi hanyalah perpindahan perhatian secara cepat dari satu tugas ke tugas lain bukan multitasking sejati, melainkan task switching yang justru bisa membuat konsentrasi terpecah dan energi mental terkuras.

Setiap kali perhatian kita berpindah dari satu hal ke hal lain, otak harus bekerja ekstra untuk menyesuaikan diri.

Proses ini membutuhkan energi kognitif tambahan yang tidak sedikit.

Jika dilakukan berulang kali, konsentrasi pun mulai goyah, dan hasil pekerjaan bisa jadi kurang optimal.

Di balik kesibukan yang terlihat produktif, multitasking digital ternyata bisa menurunkan efisiensi.

Banyak anak muda dari generasi Z merasa mampu menaklukkan banyak hal sekaligus menyusun tugas sambil membalas pesan, mendengarkan musik, dan sesekali membuka media sosial.

Notifikasi yang muncul bisa langsung mencuri perhatian entah itu pesan, komentar, atau update terbaru.

Tanpa disadari, fokus pun bergeser, dan materi pelajaran yang seharusnya dipahami dengan baik malah lewat begitu saja.

Jika kebiasaan ini terus berlangsung dalam jangka waktu lama, dampaknya bisa mulai terasa baik dalam dunia akademis maupun pekerjaan sehari-hari.

Meski multitasking digital sering dikaitkan dengan penurunan fokus, bukan berarti semuanya berdampak negatif.

Bagi sebagian orang, terutama Gen Z, mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik atau podcast justru bisa jadi penyemangat.

Di sisi lain, kemampuan Gen Z untuk berpindah cepat dari satu tugas ke tugas lain bisa jadi nilai tambah di dunia kerja masa kini yang serba dinamis.

Fleksibilitas semacam ini sangat dibutuhkan, terutama saat harus menangani berbagai tanggung jawab dalam waktu singkat.

Tekanan dari dunia akademis, tuntutan pekerjaan yang terus bergerak cepat, hingga budaya instan yang serba responsif membuat mereka merasa perlu melakukan banyak hal sekaligus.

Dalam upaya untuk tetap produktif dan relevan, multitasking pun menjadi semacam strategi bertahan di tengah arus kehidupan yang serba cepat.

Media sosial terus membanjiri kita dengan informasi baru setiap detik dari berita terkini, tren viral, hingga update teman-teman.

Di tengah arus yang tak pernah berhenti ini, muncul rasa takut tertinggal atau FOMO (Fear of Missing Out).

Jika tidak diatur dengan bijak, kebiasaan multitasking digital bisa berdampak pada kesehatan mental.

Ketika otak dipaksa untuk terus berpindah fokus dan menangani banyak hal sekaligus, lama-lama kapasitasnya bisa kewalahan.

Salah satu metode yang banyak digunakan adalah teknik Pomodoro bekerja fokus selama 25 menit, lalu mengambil jeda singkat untuk beristirahat.

Pola ini membantu otak tetap segar dan terlatih untuk berkonsentrasi tanpa merasa cepat lelah. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#otak #fokus #Gen Z #remaja #multitasking