RADARTUBAN - Pernahkah kamu dipuji atas pencapaian tertentu, tetapi dalam hati justru merasa semua itu hanya kebetulan?
Jika iya, bisa jadi kamu tengah mengalami imposter syndrome. Fenomena psikologis ini membuat seseorang meragukan kemampuan dirinya meski memiliki bukti nyata berupa prestasi, penghargaan, atau pengakuan dari orang lain.
Pertama kali diperkenalkan oleh Pauline Clance dan Suzanne Imes pada 1978, istilah ini awalnya ditemukan pada perempuan berprestasi tinggi.
Namun, penelitian lanjutan menunjukkan bahwa pria juga sama rentannya.
Menurut laporan Verywell Mind, sekitar 70–80% orang pernah merasakan pengalaman ini setidaknya sekali dalam hidupnya, tanpa memandang usia maupun profesi.
Mereka yang baru memasuki dunia akademik atau profesional sering kali menjadi kelompok paling rawan.
Misalnya, mahasiswa baru, tenaga kerja dari kelompok minoritas, atau first-generation college students yang merasa kurang memiliki “tempat” di lingkungannya.
Bahkan, data UCLA menunjukkan hingga 60% mahasiswa kedokteran pernah mengalaminya, dan kondisi ini kerap berkaitan dengan burnout.
Meski terdengar negatif, beberapa riset seperti dari MIT Sloan menyebutkan bahwa keraguan diri tidak selalu buruk.
Rasa tidak percaya diri kadang justru mendorong seseorang bekerja lebih keras, meningkatkan empati, serta memperkuat keterampilan sosial.
Namun, jika dibiarkan, imposter syndrome dapat memicu kecemasan, depresi, hingga kelelahan mental.
Ada beberapa strategi praktis untuk menghadapinya. Mulailah dengan menerima pujian tanpa menyangkal, menuliskan daftar pencapaian kecil maupun besar, hingga mengubah pola pikir dari “aku tidak pantas” menjadi “aku sudah berusaha keras dan layak”.
Bergabung dalam kelompok dukungan atau mencari konseling juga bisa membantu meredakan beban.
Merasa tidak cukup meski sudah berhasil bukan berarti kamu penipu. Itu hanyalah bias pikiran yang bisa ditata kembali.
Dengan kesadaran dan langkah yang tepat, kamu tetap bisa melangkah maju dengan keyakinan penuh pada kemampuanmu sendiri. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni