RADARTUBAN - Pernahkah kamu merasa ragu, “Apakah aku layak dicintai?” atau bertanya-tanya mengapa sulit percaya ada orang yang benar-benar tulus mencintaimu?
Jika iya, kamu tidak sendirian. Banyak perempuan, bahkan yang terlihat kuat dan penuh kasih, sering menyimpan perasaan ini dalam diam.
Menurut kajian psikologi, akar dari keyakinan “tidak pantas dicintai” sering muncul dari pengalaman nyata di masa lalu.
Salah satunya adalah parentification, ketika anak sejak kecil terbiasa mengurus orang lain lebih dulu daripada dirinya sendiri.
Pola ini bisa membuat seseorang tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya hanya berharga saat memberi, bukan karena siapa dirinya.
Akibatnya, menerima cinta terasa asing atau bahkan tidak layak.
Selain itu, tekanan sosial juga berperan besar. Perempuan kerap dinilai dari penampilan atau peran tertentu, bukan kepribadian.
Teori objectification menjelaskan bahwa hal ini membuat perempuan terbiasa melihat dirinya melalui sudut pandang orang lain.
Ketika cinta datang, sering muncul keraguan: apakah ia dicintai apa adanya atau hanya karena memenuhi peran tertentu?
Media sosial memperkuat rasa tidak cukup ini. Foto pasangan mesra, pencapaian teman, atau gaya hidup mewah sering memunculkan perasaan tertinggal.
Padahal, yang ditampilkan hanyalah potongan terbaik hidup orang lain.
Ditambah pengalaman pahit seperti pengkhianatan, sebagian perempuan akhirnya membangun tembok pertahanan dengan meyakinkan diri bahwa mereka memang tidak layak dicintai.
Namun, psikologi menekankan bahwa perasaan ini bukanlah kebenaran mutlak. Keyakinan tersebut hanyalah hasil pengalaman yang bisa diubah.
Caranya dimulai dari menyadari pola pikir negatif, berlatih menerima pujian, menetapkan batasan sehat, hingga memberi ruang untuk menerima kasih sayang.
Cinta sejati tidak menuntut kesempurnaan. Ia hadir ketika kita berani menjadi diri sendiri.
Jadi, jika pernah merasa tidak pantas dicintai, ingatlah: kamu berharga, cukup, dan layak dicintai apa adanya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni