Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

5 Kebiasaan yang Sering Disalahartikan sebagai Kebaikan, Padahal Taktik Kontrol Terselubung

Cicik Nur Latifah • Selasa, 30 September 2025 | 12:30 WIB
Kebaikan bisa jadi senjata manipulasi. Pelajari tanda-tandanya agar tidak terjebak dalam rasa bersalah
Kebaikan bisa jadi senjata manipulasi. Pelajari tanda-tandanya agar tidak terjebak dalam rasa bersalah

RADARTUBAN – Tidak semua sikap yang terlihat baik lahir dari ketulusan.

Ada kalanya “kebaikan” justru digunakan sebagai strategi halus untuk mengendalikan orang lain.

Manipulasi semacam ini sering sulit dikenali, karena dibungkus dengan sikap ramah, perhatian, dan seolah tanpa pamrih.

Dikutip dari geediting, berikut lima kebiasaan yang kerap dianggap kebaikan, namun sebenarnya bisa menjadi bentuk pengendalian rahasia.

1. Terlalu Murah Hati

Memberi hadiah atau bantuan memang menyenangkan. Namun jika dilakukan berlebihan, bisa membuat penerimanya merasa berutang budi.

Dari situlah muncul dorongan untuk menuruti keinginan si pemberi, meski sebenarnya bertentangan dengan hati nurani.

2. Selalu Jadi Pemecah Masalah

Menawarkan solusi itu baik. Tapi jika setiap keputusan kita selalu diarahkan atau dipengaruhi orang lain, ini bukan lagi bentuk kepedulian.

Itu bisa menjadi upaya menegaskan kontrol agar kita bergantung padanya.

3. Tidak Pernah Mengatakan ‘Tidak’

Sosok yang selalu mengiyakan permintaan orang sering dipandang sebagai pribadi baik hati.

Namun, sikap ini juga bisa menjadi cara menjaga citra dan menghindari konflik, sehingga kita merasa wajib menuruti mereka di lain waktu.

4. Terlalu Menyesuaikan Diri

Orang yang terus-menerus mengikuti pilihan kita, entah dalam makanan, rencana, atau kegiatan, terlihat fleksibel.

Tapi konsistensi ini bisa memunculkan rasa bersalah yang kemudian digunakan untuk memengaruhi kita.

5. Empati Palsu

Mendengarkan dengan penuh perhatian memang menenangkan. Sayangnya, ada yang memanfaatkan momen ini untuk menyimpan kelemahan kita dan menggunakannya sebagai alat manipulasi di kemudian hari.

Kebaikan sejati seharusnya tulus, membebaskan, dan memberdayakan. Jika sebuah “kebaikan” justru menimbulkan rasa bersalah, beban, atau keterikatan tidak sehat, saatnya mempertanyakan niat di baliknya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Kebaikan #Ketulusan #murah hati #pamrih #kebiasaan