RADARTUBAN – Isu kesehatan mental semakin banyak diperbincangkan, dan kini perhatian mulai bergeser ke akar permasalahan, yakni trauma masa kecil atau childhood trauma.
Dalam sebuah diskusi publik baru-baru ini, Dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, psikiater sekaligus spesialis kedokteran jiwa, menegaskan bahwa banyak pasien datang dengan keluhan emosi, kecemasan, hingga kesulitan menjalin hubungan, yang ternyata berakar dari pengalaman pahit di masa kanak-kanak.
Paparan ini ia sampaikan dalam video berjudul Supaya Sembuh dari Trauma di kanal YouTube Raditya Dika yang diunggah pada 3 September 2025.
Menurut Dr. Jiemi, sejak pandemi COVID-19, bukan hanya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental yang meningkat, tetapi juga kompleksitas kasus yang ditangani.
“Dulu banyak yang mengira trauma harus berupa bencana besar atau ancaman nyawa yang disebut ‘Big T’. Padahal, ada juga ‘Small T’, yaitu pengalaman kecil yang berulang dan menumpuk hingga merusak mental, citra diri, maupun hubungan," kata dia.
Baca Juga: Trauma Lama Sulit Hilang? Begini Penjelasan Psikologi tentang Cara Otak Menyimpan Luka Masa Lalu
"Misalnya sering diabaikan atau dikritik tanpa alasan. Itu pun bisa meninggalkan luka yang dalam,” sambungnya.
Dia menerangkan, cara sederhana mengenali trauma adalah dengan memperhatikan reaksi tubuh terhadap situasi netral.
“Jika Anda merasa sangat panik hanya karena mendengar nada suara sedikit meninggi, padahal orang itu tidak sedang marah, kemungkinan Anda sedang terpicu oleh memori lama. Reaksi tubuh yang berlebihan, seperti ingin menyerang, kabur, atau diam membeku (freeze), adalah alarm bahwa ada memori yang belum selesai,” tambahnya.
Banyak orang dewasa yang mencoba menyembuhkan inner child merasa terbebani oleh tuntutan untuk memaafkan orang tua yang menjadi sumber trauma.
Dr. Jiemi menegaskan bahwa memaafkan bukanlah langkah pertama.
“Saya sering menyarankan: jangan maafkan dulu. Fokuslah mengurangi rasa sakit emosinya. Jika rasa sakitnya hilang, memaafkan akan datang dengan sendirinya.”
Dia juga menekankan, akar trauma kerap bukan karena niat jahat orang tua, melainkan keterbatasan pengetahuan atau luka masa lalu yang belum sembuh.
Kondisi unhealed trauma ini bisa memicu depresi, kecemasan, hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Dampaknya pun merembet ke perilaku sehari-hari, seperti sulit mempercayai orang lain, masalah hubungan, hingga gangguan tidur.
Menurutnya, sekitar 80 persen orang bisa pulih dari trauma secara mandiri dengan dukungan lingkungan yang aman (support system) dan waktu.
Namun, 20 persen lainnya membutuhkan intervensi profesional.
Psikolog dan psikiater berperan melalui diagnosis, konseling, psikoterapi, hingga pengobatan medis.
“Prinsip penyembuhan adalah memperbarui memori traumatis dengan data baru yang kontras dan aman. Obat hanya menstabilkan gejala, tetapi yang benar-benar menyembuhkan adalah psikoterapi,” ujar Dr. Jiemi.
Baca Juga: Pasca Dugaan Keracunan Menu MBG di SMKN Palang, Siswa dan Orang Tua Alami Trauma Mendalam
Dia juga mengingatkan, bila berbagai cara menenangkan diri selalu gagal, itu adalah sinyal kuat untuk segera mencari bantuan profesional.
Penanganan sejak dini meningkatkan peluang pemulihan.
Bahkan, proses penyembuhan tidak selalu memakan waktu bertahun-tahun.
Banyak pasien justru menunjukkan kemajuan signifikan saat datang dengan kesiapan untuk berproses.
Trauma masa kecil ibarat fondasi yang retak bagi kesehatan mental.
Namun, pemulihan selalu mungkin dicapai. Kunci utamanya adalah keberanian untuk mengakui luka dan mencari bantuan ketika usaha mandiri tidak lagi cukup.
Dengan intervensi tepat, memori menyakitkan bisa dinetralkan sehingga masa lalu tidak lagi mendikte kualitas hidup masa kini.
Strategi Pemulihan Kesehatan Mental
Selain terapi profesional, ada strategi pendukung yang dapat membantu proses penyembuhan.
Penguatan diri penting untuk membangun ketahanan mental, mengenali emosi, dan mengembangkan strategi koping sehat.
Dukungan sosial dari keluarga, sahabat, atau komunitas memberi rasa aman dan penerimaan tanpa menghakimi.
Perawatan holistik seperti tidur cukup, nutrisi seimbang, olahraga teratur, serta aktivitas yang menenangkan pikiran turut berperan besar.
Latihan mindfulness dan relaksasi terbukti membantu menurunkan stres sekaligus mengelola kecemasan.
Psikoedukasi juga tak kalah penting, agar penderita memahami kondisi mentalnya dan lebih siap menghadapi gejala.
Dengan kombinasi strategi ini, proses pemulihan tidak hanya berfokus pada mengatasi rasa sakit, tetapi juga membangun kembali kualitas hidup yang lebih sehat, kuat, dan bermakna. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama