RADARTUBAN - Dalam era digital dan media sosial saat ini, istilah psikologis red flag, green flag, dan beige flag sering menjadi perbincangan luas di media sosial, terutama dalam konteks hubungan asmara.
Apa sebenarnya makna di balik istilah-istilah tersebut?
Diskusi ini diangkat dalam podcast dari kanal YouTube Ruang Tunggu pada Sabu (28/6), dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, seorang psikiater yang hadir untuk mengupas tiga istilah tersebut yang sering didengar saat berbicara tentang hubungan.
Istilah red flag yang dipakai secara luas sesungguhnya berasal dari dunia militer, maritim, dan balapan yang menandakan peringatan berhenti atau bahaya.
Dalam ranah hubungan, red flag mengindikasikan tanda-tanda berbahaya.
Tanda-tanda tersebut seperti, sifat manipulatif yang sering sulit dikenali, emosi tidak stabil yang memicu ketakutan, perilaku posesif yang berlebihan, serta berbagai bentuk abuse (kekerasan) baik verbal maupun emosional.
Sebaliknya, green flag menandakan tanda-tanda positif seperti, kemampuan pasangan untuk mengelola konflik dengan baik, menunjukkan rasa aman emosional yang sehat, dan adanya dukungan timbal balik dalam mencapai tujuan pribadi.
Sementara itu, beige flag merupakan kategori netral yang menunjukkan keunikan sikap seseorang yang tidak secara jelas negatif atau positif.
Melainkan sekadar ciri khas yang kadang sulit dikategorikan, seperti hobi yang sangat spesifik atau kebiasaan bicara yang unik.
Dr. Andreas juga menyinggung dua jebakan mental yang menghambat hubungan.
Pertama adalah mental shortcut (heuristic), yaitu kecenderungan manusia untuk cepat menghakimi seseorang berdasarkan pengalaman masa lalu atau informasi parsial.
Kecenderungan ini dapat membuat seseorang terlalu cepat menetapkan red flag tanpa bukti utuh.
Jebakan kedua adalah rescue fantasy, yaitu keyakinan salah bahwa seseorang memiliki kemampuan untuk "menyelamatkan" atau mengubah pasangan yang bermasalah.
Perubahan harus datang dari kesadaran dan kemauan diri sendiri, bukan dipaksa oleh orang lain, dan rescue fantasy seringkali berujung pada kekecewaan dan kelelahan emosional.
“Lebih bijak dan sadar dalam memilih pasangan, menghindari over-judgment yang cepat tanpa bukti utuh, dan fokus pada self-awareness serta komunikasi yang mengarah pada perbaikan hubungan, bukan sekadar menghakimi,” jelas Dr. Andreas.
Dalam proses membangun hubungan yang sehat, tidak realistis jika mengharapkan pasangan tanpa cacat sedikitpun sebab manusia adalah makhluk yang penuh warna dengan campuran sifat baik dan kurang baik.
Kunci untuk mengelola perbedaan ini adalah komunikasi terbuka, pengakuan perasaan (your feeling is valid), dan kesadaran akan ekspektasi masing-masing. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni