RADARTUBAN – Komika sekaligus penulis Raditya Dika mengundang Psikolog Anak dan Konten Kreator, Caca Tengker, di kanal YouTube pribadinya untuk membahas tantangan dan dilema menjadi orang tua di era modern.
Perbincangan yang tayang santai namun sarat wawasan ini menyoroti berbagai isu, mulai dari etika dasar, dinamika keluarga, hingga mitos nutrisi yang kerap membuat orang tua overthinking.
Caca Tengker membuka diskusi dengan menekankan pentingnya kesadaran diri dan menghargai waktu orang lain.
Ia mencontohkan fenomena di lapangan olahraga (seperti padel), di mana pemain kerap terlambat meninggalkan lapangan karena asyik berfoto.
“Bukan masalah tiga menit. Tapi masalah menghargai waktu orang dan kesadaran bahwa kita boleh punya keinginan, tapi jangan sampai merugikan orang lain,” tegas Caca.
Baca Juga: Positive Parenting: Kunci Membentuk Karakter Anak yang Unggul dari Anak Seumurannya
Raditya Dika menambahkan, perilaku menyalahkan orang lain juga merupakan naluri manusiawi yang sering terlihat di lingkungan kompetitif maupun media sosial, karena lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada diri sendiri.
Prinsip saling menghargai ini, menurut Caca, harus ditanamkan sejak dini dan berlaku di semua aspek kehidupan.
Caca mengingatkan, karakter anak dibentuk oleh banyak faktor seperti pola asuh, lingkungan sosial, hingga pengalaman hidup.
Orang tua diminta waspada agar luka masa kecil (childhood wound) tidak ikut diwariskan.
“Kadang kita berlaku ke anak bukan karena yang terbaik untuk anak, tapi karena luka masa kecil kita. Misalnya, menyuruh anak berbagi karena kita dulu dipaksa berbagi,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa memaksa anak berbagi di usia egosentris justru berisiko membuat mereka menjadi people pleaser.
Lebih baik, orang tua menjadi role model dengan menunjukkan bahwa memberi bisa menghadirkan kepuasan, bukan keterpaksaan.
Mengenai dinamika kakak-adik (sibling rivalry), Caca mengakui bahwa kehadiran adik adalah hal berat bagi kakak yang merasa dunianya harus dibagi.
Terkait konflik antar anak, ia menyarankan orang tua untuk tidak terburu-buru mengintervensi.
“Kita perlu percaya mereka punya kemampuan untuk menyelesaikan masalah sendiri,” ujarnya.
Jika intervensi diperlukan (misalnya terjadi kekerasan), orang tua harus memvalidasi emosi anak, baru kemudian menjelaskan batasan perilaku yang tidak boleh dilanggar.
Caca juga menanggapi dilema orang tua saat melihat anak kalah atau gagal.
Menurutnya, menghindarkan anak dari rasa sedih atau kekalahan justru berbahaya.
“Dia mengajarkan kekalahan itu enggak apa-apa. Gimana dia bisa menghadapi kekalahan itu jauh lebih penting daripada dia selalu menang,” tegasnya.
Baca Juga: Meita Irianty, Influencer Parenting Ditetapkan Tersangka Kasus Penganiayaan Bayi di Daycare
Sebagai penutup diskusi parenting, Caca Tengker memberi pesan menenangkan bagi para orang tua.
“Anak tidak butuh orang tua yang sempurna. Anak butuh orang tua yang mengajarkan mereka menjadi manusia, dan manusia itu pasti penuh kesalahan. Usaha untuk repair (memperbaiki) itu jauh lebih penting daripada kita takut buat kesalahan,” katanya.
Ia menyimpulkan, tidak ada panduan baku dalam parenting. Semua teori harus disesuaikan dengan takaran dan kebutuhan masing-masing keluarga.
Di segmen akhir, perbincangan beralih ke mitos nutrisi, khususnya Monosodium Glutamat (MSG).
Berdasarkan informasi dari pakar gizi yang hadir di acara Sasa, Caca menjelaskan bahwa MSG sebenarnya sudah diproduksi tubuh manusia dan ditemukan pada bahan alami seperti tomat dan jamur.
MSG juga mengandung 32 persen lebih sedikit natrium dibandingkan garam biasa.
“Penggunaan MSG bisa mengurangi pemakaian garam. Jadi, buat orang yang lansia atau anak-anak, kalau dikasih MSG rasanya lebih kuat dan gurih, nafsu makan lebih baik,” tutup Caca, menyimpulkan bahwa yang terpenting adalah penggunaan dalam porsi sesuai. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni