RADARTUBAN —Setiap anak punya cara tumbuh dan berkembang yang berbeda.
Ada yang terlihat aktif, ada yang sedang belajar memahami emosinya, dan ada juga yang tanpa sadar diberi label “nakal” hanya karena perilakunya belum sesuai harapan orang dewasa.
Sering kali orang tua dan lingkungan tidak menyadari bahwa pola asuh, keteladanan, hingga pengaruh media sosial ikut membentuk cara anak melihat dirinya sendiri.
Inilah yang kemudian membuat fenomena “kenakalan anak” menjadi topik yang semakin relevan untuk dibahas.
Samanta Elsener ngobrol bareng Reni Kusumowardhani (Psikolog Praktisi & Ahli Forensik) soal meningkatnya kasus kenakalan anak di Indonesia.
Mulai dari labeling sederhana seperti “anak nakal”, hingga fenomena perilaku ekstrem seperti bullying, kekerasan, hingga pelecehan.
Reni juga menyoroti pentingnya pendidikan seksual sejak dini, kesiapan emosional sebelum menjadi orang tua, dan kesadaran bahwa setiap anak memiliki “ekologi” perkembangannya sendiri.
Dalam diskusi bertajuk “STOP LABELI ANAK NAKAL! MULAI FOKUS PERBAIKI POLA ASUH” (diunggah pada 24 September 2025) di youtube channel Grace Tahir, Reni menekankan bahwa kata-kata orang tua bisa menjadi doa, bisa pula menjadi luka.
“Kita perlu batasi dulu label ‘nakal’ ini. Kadang tanpa sadar, kita sering menyebut anak nakal padahal dia tidak melakukan apa-apa,” ujar Reni .
“Pada akhirnya anak akan memenuhi label itu dan menjadikannya bagian dari dirinya.”tambahnya
Kenakalan adalah Proses Belajar Bukan Perilaku Buruk, Reni menjelaskan, apa yang sering disebut “kenakalan” sebenarnya adalah bagian dari proses belajar anak belajar mengenali batasan, memahami emosi, dan merespons lingkungan. Namun proses ini kerap terhambat oleh tiga hal utama:
• Krisis Keteladanan: Banyak anak tumbuh tanpa figur nyata yang bisa dijadikan panutan.
Sosok orang tua perlahan tergantikan oleh layar gawai dan media sosial, hingga anak kehilangan arah moral
• Pola Asuh yang Bermasalah: Perilaku menyimpang bukan semata karena genetik, tapi juga hasil dari interaksi dalam rumah.
Jika orang tua membawa luka atau pola kekerasan dari masa lalu, itu bisa “menurun” ke anak
• Kekerasan Antargenerasi: Saat anak menyaksikan kemarahan diekspresikan lewat bentakan atau kekerasan fisik, mereka belajar bahwa cara itulah yang “normal” untuk mengekspresikan emosi
Dari Tantrum Hingga Gangguan Perilaku,Pentingnya Waspada Sejak Dini Kenakalan serius tidak terjadi begitu saja.
Ia tumbuh perlahan, seiring tahapan perkembangan anak.
Mulai dari tantrum di usia 2–5 tahun yang masih tergolong wajar, hingga Oppositional Defiant Disorder (ODD) di usia sekolah, dan bisa meningkat menjadi Conduct Disorder (CD) pada masa pra-remaja jika tak segera ditangani.
Ada empat tanda utama CD yang perlu diperhatikan:
Agresif: Tidak mampu mengatur emosi, bahkan bisa melukai manusia atau hewan.
Destruktif: Cenderung merusak barang atau properti.
Manipulatif: Pandai beralasan atau mencari pembenaran atas perilaku buruk.
Pelanggaran Aturan: Melanggar norma hingga berpotensi melanggar hukum.
Pendidikan Seks Dini, Ajarkan Anak untuk Menghargai Tubuhnya Sendiri, Reni juga menyinggung pentingnya edukasi seksual sejak dini.
Kasus pelecehan anak, katanya, sering kali berawal dari rasa ingin tahu atau pengalaman meniru tanpa pemahaman.
“Edukasi seksual bisa dimulai sesederhana mengucapkan ‘permisi ya’ saat membersihkan tubuh anak. Dari situ, anak belajar bahwa tubuhnya berharga dan harus dijaga,” jelas Reni lembut.
Berhenti Melabel Mulai Memuji , Menurut Reni yang dibutuhkan bukan vonis, tapi perhatian.
Anak-anak tumbuh dari apa yang mereka dengar setiap hari. Langkah kecil yang bisa dilakukan orang tua, Hentikan labeling bahkan jika anak sudah terdiagnosis ODD atau CD.
Fokus pada perilaku, bukan pribadi. Koreksi tindakan, bukan menyalahkan anaknya.
Berikan penguatan positif. Tangkap momen ketika anak berperilaku baik sekecil apapun, seperti membereskan sepatu atau bangun pagi tanpa disuruh.
Berikan pujian, karena dari sanalah tumbuh kepercayaan diri dan rasa dihargai.
Reni menutup dengan pesan yang menyentuh hati , “Seheboh apa pun perilaku anak-anak kita, jangan cepat-cepat memberi label, apalagi mendiagnosis. Mari kita tangkap mereka di saat berperilaku baik, dan fokuslah pada hal positif dari anak.”
Sebuah pengingat lembut bahwa setiap anak pada dasarnya baik hanya butuh ruang aman untuk tumbuh, dan teladan yang penuh kasih untuk belajar menjadi manusia seutuhnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni