RADARTUBAN- Peran orang tua sebagai garda terdepan dalam membentuk jati diri anak dinilai sangat penting untuk mencegah anak dan remaja terjerumus dalam perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).
Hal ini ditegaskan oleh Krisna Dewi Maharti, M.Th., seorang Konselor Keluarga dari Gereja Kemuliaan Sion, dalam diskusi di kanal YouTube Today’s Message.
Diskusi tersebut menyoroti bahwa peran orang tua dari bagaimana mereka mendidik dan membentuk lingkungan rumah tangga dengan harmonis adalah kunci dalam membangun jati diri anak yang sesuai dengan kodratnya.
Meski sebagian orang menganggap kecenderungan seksual sebagai hal yang normal, Krisna Dewi menegaskan bahwa dalam bimbingan agama dan biologis, kecenderungan LGBT merupakan penyimpangan.
Penyebab utama anak-anak hingga remaja terjebak dalam LGBT dikaitkan dengan paparan pornografi pada usia dini, ketidakharmonisan rumah tangga, minimnya perhatian dan kasih sayang dari figur ayah dan ibu, serta pengaruh lingkungan teman sebaya yang memicu kecanduan dan pergeseran perilaku.
“Keadaan rumah yang tidak harmonis, seperti kekerasan dalam keluarga dan ketidakadanya kasih sayang yang cukup dari orang tua, menjadikan anak-anak rentan mencari perhatian dan penerimaan di luar rumah, yang berdampak pada pergeseran perilaku seksual,” ungkap Krisna Dewi.
Untuk mencegah hal tersebut, Krisna Dewi menyampaikan pesan penting kepada para orang tua:
1. Prioritaskan mendidik anak sesuai dengan jenis kelamin atau kodratnya.
2. Membangun pola asuh yang dilandasi cinta kasih sayang dan empati.
3. Melakukan pengawasan ketat terhadap tontonan dan lingkungan sosial anak.
4. Membangun komunikasi yang jujur dan terbuka antara orang tua dan anak.
Anak laki-laki perlu dibimbing dengan aktivitas yang memperkuat maskulinitasnya, sementara anak perempuan harus diasah sisi kelembutannya, agar menumbuhkan jati diri yang sehat dan selaras dengan ketentuan alam dan agama.
Jika anak sudah terlanjur masuk ke dalam komunitas LGBT, solusi utama yang ditawarkan adalah kehadiran orang tua yang penuh kasih, pendekatan emosional yang empatik, serta doa dan dukungan yang konsisten.
Proses perubahan memang terasa sulit, namun bukan tidak mungkin karena campur tangan Tuhan dipercaya mampu melakukan mukjizat dalam penanganannya.
“Tidak ada yang mustahil, selama orang tua merendahkan hati dan terus berdoa, perubahan pasti bisa terjadi,” tegasnya.
Anak-anak yang terjebak dalam kondisi ini adalah mereka yang paling membutuhkan untuk diterima dan didampingi.
Tetapi, kita harus ingat, menghakimi dan membenci bukan jalan yang benar.
Orang tua harus meluangkan waktu lebih banyak untuk mendengarkan bukan hanya berbicara, karena anak-anak yang terjebak dalam LGBT adalah mereka yang butuh diterima. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni