RADARTUBAN - Belakangan ini, istilah “men marry down” kembali ramai diperbincangkan, terutama di media sosial dan forum-forum diskusi yang membahas relasi dan dinamika gender.
Meski terdengar sederhana, isu ini menyimpan banyak lapisan yang perlu dipahami dengan jernih agar tidak terjebak pada asumsi atau stereotip yang menyesatkan.
Apa Itu “Men Marry Down”?
Secara harfiah, “men marry down” berarti laki-laki menikahi perempuan yang dianggap berada di “bawah” mereka dalam hal status sosial, ekonomi, pendidikan, atau karier.
Misalnya, seorang pria dengan gelar master dan posisi manajerial memilih menikah dengan perempuan lulusan SMA yang bekerja sebagai kasir.
Atau pria dari keluarga terpandang menikahi perempuan dari latar belakang ekonomi yang lebih sederhana.
Fenomena ini bukan hal baru.
Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, ada anggapan bahwa laki-laki adalah “pemimpin” dalam rumah tangga, sehingga wajar jika mereka memilih pasangan yang levelnya lebih rendah.
Namun, apakah benar ini hanya soal dominasi? Atau ada faktor lain yang lebih kompleks?
Di Balik Preferensi: Faktor Sosial dan Psikologis
Pilihan pasangan tentu dipengaruhi banyak hal.
Bukan hanya soal pendidikan atau gaji, tapi juga kenyamanan, nilai hidup, dan kecocokan emosional.
Dalam beberapa kasus, laki-laki mungkin merasa lebih percaya diri atau “berdaya” ketika pasangannya tidak terlalu kompetitif secara karier.
Ada juga yang merasa lebih mudah membangun relasi ketika perbedaan status tidak terlalu menantang ego mereka.
Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua laki-laki memiliki preferensi seperti ini.
Banyak juga yang justru tertarik pada perempuan yang cerdas, mandiri, dan punya pencapaian tinggi.
Jadi, istilah “men marry down” bukanlah label mutlak, melainkan gambaran dari sebagian pola yang muncul dalam masyarakat.
Dampaknya terhadap Relasi
Isu ini bisa menjadi sensitif ketika dibahas tanpa konteks.
Jika tidak hati-hati, bisa muncul anggapan bahwa perempuan harus “menyesuaikan diri” agar bisa diterima oleh laki-laki.
Padahal, relasi yang sehat dibangun atas dasar kesetaraan, saling menghargai, dan komunikasi yang baik.
Di sisi lain, perempuan yang berada di posisi “lebih tinggi” dalam relasi kadang menghadapi tantangan tersendiri.
Mereka bisa dianggap terlalu dominan, atau bahkan “mengancam” posisi laki-laki.
Hal ini menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan rumah besar dalam membongkar konstruksi sosial yang membatasi peran gender dalam hubungan.
Menuju Pemahaman yang Lebih Seimbang
Daripada memperdebatkan siapa yang “lebih tinggi” atau “lebih rendah”, akan lebih bijak jika kita mulai menggeser fokus ke kualitas hubungan itu sendiri.
Apakah pasangan saling mendukung?
Apakah mereka tumbuh bersama?
Apakah ada rasa hormat dan cinta yang tulus?
Isu “men marry down” seharusnya tidak menjadi alat untuk menghakimi pilihan seseorang, melainkan bahan refleksi untuk memahami bagaimana norma sosial membentuk cara kita melihat relasi.
Dengan memahami konteksnya secara utuh, kita bisa lebih bijak dalam menyikapi fenomena ini tanpa prasangka, tanpa stigma. (*/lia)
Editor : radar tuban digital