Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengenal Terminal Lucidity: Saat Kesadaran Kembali Sebelum Kematian Fenomena yang Menggugah Rasa Ingin Tahu

M. Afiqul Adib • Selasa, 7 Oktober 2025 | 18:07 WIB
Ilustrasi Terminal Lucidity, kesadaran dan kesembuhan sesaat.
Ilustrasi Terminal Lucidity, kesadaran dan kesembuhan sesaat.

RADARTUBAN - Pernah nggak sih kamu melihat seseorang yang sudah lama sakit, terlihat lemah dan hampir tak bisa bicara, tiba-tiba jadi segar bugar?

Bisa ngobrol, tersenyum, bahkan terlihat seperti sudah sembuh.

Tapi tak lama kemudian, orang tersebut meninggal dunia.

Fenomena ini bukan sekadar kebetulan.

Dalam dunia medis dan psikologi, kondisi seperti itu dikenal dengan istilah terminal lucidity.

Terminal lucidity adalah kondisi di mana seseorang yang sedang berada dalam fase akhir hidupnya, baik karena penyakit kronis, gangguan neurologis, atau kondisi degeneratif tiba-tiba menunjukkan peningkatan kesadaran, kejernihan berpikir, dan kemampuan berkomunikasi.

Padahal sebelumnya, mereka mungkin sudah tidak responsif, bingung, atau bahkan koma.

Berlangsung Singkat, Tapi Bermakna

Durasi terminal lucidity bisa bervariasi.

Ada yang hanya berlangsung beberapa menit, ada pula yang bertahan hingga beberapa jam.

Beberapa laporan menyebutkan kasus yang berlangsung sampai 12 jam, tapi itu tergolong langka.

Kebanyakan hanya sebentar.

Dan yang menarik (atau mungkin mengharukan), kematian biasanya menyusul dalam waktu 24 jam hingga seminggu setelah episode kejernihan ini.

Bagi keluarga, momen ini sering kali terasa seperti “kesempatan terakhir” untuk berbicara, mendengar kata-kata penuh makna, atau sekadar merasakan kehadiran orang tercinta dalam kondisi sadar.

Tak sedikit yang menganggapnya sebagai “hadiah” sebelum perpisahan.

Apa Penyebabnya?

Sampai saat ini, terminal lucidity masih menjadi misteri dalam dunia medis.

Belum ada penjelasan pasti mengapa hal ini bisa terjadi.

Beberapa ahli menduga bahwa ada perubahan kimiawi di otak menjelang kematian yang memicu lonjakan aktivitas saraf.

Ada juga yang mengaitkannya dengan pelepasan hormon tertentu yang membuat tubuh “berusaha” bangkit sebentar sebelum benar-benar menyerah.

Namun, karena fenomena ini jarang terjadi dan sulit diprediksi, penelitian tentang terminal lucidity masih terbatas.

Sebagian besar kajian mengandalkan laporan kasus dan pengalaman pribadi sebagai sumber informasi.

Menyikapi dengan Bijak

Bagi sebagian orang, terminal lucidity bisa menjadi momen penuh harapan.

Tapi penting untuk diingat bahwa fenomena ini bukan tanda kesembuhan.

Justru, ini sering kali menjadi pertanda bahwa akhir sudah dekat.

Maka, jika kamu mengalami momen seperti ini bersama orang terdekat, manfaatkanlah dengan penuh kasih.

Dengarkan, temani, dan berikan ketenangan.

Fenomena ini juga mengingatkan kita bahwa hidup memang penuh kejutan.

Bahkan di ujung kematian, tubuh dan jiwa bisa memberikan satu momen kejernihan yang tak ternilai.

Bukan untuk menipu, tapi mungkin untuk memberi ruang terakhir bagi cinta, maaf, dan perpisahan yang damai. (*/lia)

Editor : radar tuban digital
#sembuh #otak #segar bugar #penyakit kronis #koma #meninggal dunia #perpisahan #kimiawi #akhir hidup #menyerah #kejernihan #sakit #kematian #Terminal lucidity #bangkit #degeneratif #sadar