Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

5 Siasat Buat Introvert Ketika Menjadi Bapak-Bapak yang Harus Bersosial

M. Afiqul Adib • Kamis, 9 Oktober 2025 | 03:05 WIB
Ilustrasi bapak-bapak bersosial.
Ilustrasi bapak-bapak bersosial.

RADARTUBAN - Menjadi bapak-bapak itu bukan cuma soal ganti popok dan cari nafkah.

Ada satu sisi yang jarang dibicarakan tapi cukup menantang, terutama buat para introvert: dunia sosial ala warga.

Mulai dari pos ronda, arisan RT, kerja bakti, sampai kumpul-kumpul dadakan yang entah kenapa selalu ada.

Buat yang baru jadi bapak, apalagi yang sebelumnya hidupnya lebih banyak di ruang pribadi, ini bisa jadi pengalaman yang bikin kagok.

Sebagai introvert, saya paham betul rasanya. Tiba-tiba harus hadir di forum yang penuh obrolan ringan, basa-basi, dan kadang candaan bapak-bapak yang absurd tapi hangat.

Rasanya seperti dilempar ke kolam ramai padahal kita baru belajar berenang.

Tapi tenang, ada beberapa siasat yang bisa dicoba supaya proses adaptasi ini nggak terlalu bikin stres.

1. Mulai dari Hadir Dulu, Bicara Belakangan

Siasat pertama: jangan langsung merasa harus aktif. Hadir dulu saja. Duduk, dengar, senyum tipis kalau perlu.

Kadang kehadiran sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kita bagian dari lingkungan.

Nggak perlu langsung jadi MC atau komentator. Pelan-pelan, nanti juga akan ada momen di mana kita merasa nyaman untuk ikut ngobrol.

2. Temukan “Teman Aman”

Di setiap lingkungan pasti ada satu-dua orang yang vibe-nya cocok.

Entah karena sama-sama pendiam, atau karena obrolannya nggak terlalu ribet. Temukan mereka.

Jadikan mereka “teman aman” yang bisa jadi tempat bersandar saat acara warga terasa terlalu ramai.

Kadang ngobrol berdua di pojokan jauh lebih menyenangkan daripada ikut arus obrolan besar.

3. Bantu Secara Praktis

Kalau ngobrol bukan kekuatan utama, bantu secara praktis.

Misalnya bantu angkat kursi, bersih-bersih, atau jadi orang yang sigap saat ada yang butuh bantuan. Tanpa banyak bicara, kita tetap bisa menunjukkan kontribusi.

Dan biasanya, warga akan menghargai itu.

4. Jangan Takut Bilang “Baru Belajar”

Kalau ada momen di mana kita benar-benar nggak tahu harus ngapain, nggak apa-apa bilang.

“Saya masih baru belajar ikut kegiatan warga." Kalimat sederhana itu bisa membuka ruang pengertian. Orang-orang akan lebih ramah dan nggak menuntut macam-macam.

5. Ambil Nafas, Nikmati Proses

Menjadi bagian dari masyarakat itu proses. Nggak semua harus langsung klik.

Sebagai introvert, kita punya kelebihan dalam mendengar, memahami, dan memberi respon yang dalam.

Gunakan itu. Jangan merasa harus berubah jadi ekstrovert. Cukup jadi versi terbaik dari diri sendiri, tapi lebih terbuka.

Menjadi Bapak, Menjadi Warga

Menjadi bapak-bapak bukan berarti harus meninggalkan sisi introvert kita. Tapi memang perlu sedikit penyesuaian.

Karena di balik semua acara warga itu, ada nilai kebersamaan yang penting untuk anak dan keluarga kita. Kita nggak harus jadi pusat perhatian, tapi cukup jadi bagian yang hadir dan peduli.

Pelan-pelan, dunia warga akan terasa lebih akrab. Dan kita pun bisa tetap jadi diri sendiri, sambil belajar jadi bapak yang bukan cuma ada di rumah, tapi juga di tengah masyarakat. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#praktis #kontribusi #Introvert #teman #jati diri