Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bukan Soal Stop Beli Barang, Astri Puji Lestari Ajarkan Mengubah Kesenangan Sesat Jadi Hidup Sadar Lingkungan

Erlina Alfira Qurrotu Aini • Kamis, 9 Oktober 2025 | 14:10 WIB
Ilustrasi pasangan sedang berbelanja barang yang sangat berlebihan.
Ilustrasi pasangan sedang berbelanja barang yang sangat berlebihan.

RADARTUBAN - Dalam kehidupan modern, kebiasaan belanja dan konsumsi berlebihan sering kali menjadi sumber kebahagiaan instan yang hanya sesaat.

Sayangnya, kemudahan ini datang dengan menghasilkan sampah dan jejak karbon signifikan yang berdampak pada lingkungan dan memperburuk perubahan iklim.

Demi masa depan yang lebih baik, terutama untuk generasi mendatang, gaya hidup berkesadaran (conscious living) dan ramah lingkungan menjadi solusi utama.

Konsep ini bukan hanya tentang membatasi pembelian, tetapi lebih mendalam, yaitu mengatasi kerinduan hati dan nafsu yang sering memicu pembelian impulsif.

Perubahan gaya hidup ini dimulai dari sikap reflektif, evaluatif, dan realistis terhadap kebutuhan, bukan sekadar mengikuti tren.

Conscious living mengajak kita untuk bertanya: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan atau hanya keinginan sesaat?

Astri Puji Lestari, seorang konten kreator dan praktisi gaya hidup conscious living, membagikan pengalamannya menjalani gaya hidup sadar lingkungan yang bisa dimulai dari hal-hal kecil dalam podcast Senar di kanal YouTube Annisa Steviani pada Senin (29/9).

Gaya hidup ini bukan hanya soal mengurangi pembelian barang atau stop membeli produk, tetapi yang paling mendasar adalah mengatasi kerinduan hati dan nafsu yang sering kali menjadi pemicu pembelian impulsif.

Keseharian menjalani gaya hidup sadar lingkungan dapat dimulai dengan hal-hal sederhana, seperti memakai sabun dan sampo batang yang ramah lingkungan, meminimalisir sampah makanan dengan mengonsumsi dan mengelola bahan makanan secara maksimal, hingga membawa alat makan dan minum sendiri untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai.

Aktivitas tersebut bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberikan rasa puas dan power pada diri sendiri, bahwa tindakan kecil yang konsisten dapat membawa perubahan.

Namun, konsistensi dalam menjalankan gaya hidup ini memang tidak mudah dan penuh tantangan, terutama ketika lingkungan sekitar atau pasangan hidup memiliki kebiasaan berbeda.

“Kalau mau ramah sama lingkungan, sebelumnya ramahlah sama diri sendiri, sama hati sendiri,” pesan Astri.

Menurut Astri, penting untuk menyeimbangkan niat baik dengan memprioritaskan diri sendiri. Dengan pendekatan ini, seseorang bisa menikmati proses secara perlahan tanpa tekanan berlebihan.

Selain itu, menata isi rumah dan isi lemari untuk mengurangi penumpukan barang (cluttering) yang tidak perlu adalah bagian penting dari hidup minimalis.

Dengan menyadari bahwa memiliki banyak barang tidak otomatis memberikan rasa cukup, kita bisa berfokus pada kualitas dan kebutuhan, bukan kuantitas.

Terakhir, pengelolaan sampah juga memegang peran penting. Langkah memilah dan mengompos sampah, serta bekerja sama dengan bank sampah, memastikan limbah dikelola dengan baik.

Gaya hidup conscious living ini akhirnya membawa manfaat untuk bumi dan kita mendapat ketenangan serta kebahagiaan dengan sedikit barang, sedikit sampah, dan banyak kesadaran. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Perubahan Iklim #belanja #gaya hidup #Konsumsi Berlebihan #Conscious Living #peduli lingkungan