RADARTUBAN – Di tengah maraknya budaya digital, upaya menumbuhkan kembali minat baca anak melalui buku cerita terus dilakukan.
Buku anak yang dipersonalisasi kini menjadi tren baru karena mampu mengajak anak bermimpi sekaligus menanamkan nilai kebaikan sejak dini.
Konsep ini tak hanya mengenalkan profesi, tetapi juga mengajarkan pentingnya menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat bagi sesama.
Kegiatan membaca bersama orang tua juga disebut berperan besar dalam membantu anak Membaca buku anak menjadi cara efektif untuk mendidik dan mengajak anak bermimpi sejak dini.
Buku cerita yang dipersonalisasi mampu menanamkan nilai positif dan mengasah imajinasi anak.
Hal ini diungkap oleh Ernest Junius Wiyanto, penulis sekaligus cofounder personalised children’s book, Bookabook.id, dan pameran buku anak, Karya Raya, dalam podcast Underdog yang tayang di YouTube Fellexandro Ruby, pada Rabu (6/8).
Buku anak yang dipersonalisasi tidak hanya mengajarkan cita-cita dan profesi, tapi lebih pada bagaimana menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat bagi orang lain.
“Kamu dapat memilih untuk jadi baik karena dia menolong nenek-nenek menyeberang jalan,” ujar Ernest.
Anak-anak diajak memahami bahwa menjadi orang baik jauh lebih penting daripada sekadar menentukan profesi masa depan.
Kegiatan membaca bersama orang tua juga menjadi faktor penting agar nilai buku dapat tersampaikan dengan lebih efektif.
Selain membahas literasi anak, pentingnya keseimbangan antara membaca fiksi dan nonfiksi.
Fiksi dinilai ampuh menumbuhkan empati karena mengajak pembaca memahami berbagai sudut pandang dan perasaan manusia.
Sedangkan nonfiksi lebih menekankan pada logika, struktur berpikir, serta kedisiplinan dalam memahami fakta.
“Orang yang membaca fiksi biasanya punya kemampuan berempati yang lebih tinggi karena mereka belajar melihat dari sudut pandang tokoh lain,” ujar Ernest.
Bagi pembaca pemula, disarankan memulai dari karya fiksi yang ringan dan mudah dipahami seperti Animal Farm karya George Orwell, kumpulan cerita pendek Haruki Murakami, atau novel The Remains of the Day karya Kazuo Ishiguro.
Lebih jauh, dibahas pula pentingnya membangun ekosistem literasi yang melibatkan perpustakaan, toko buku, komunitas pembaca, serta penghargaan berbasis buku dan alat tulis.
Hal ini bertujuan membangkitkan kembali minat baca dan menulis terutama di kalangan generasi muda agar memiliki karakter yang empatik, kreatif, serta cerdas.
Pada akhirnya, membaca bukan hanya tentang banyaknya buku yang dituntaskan, tetapi seberapa dalam nilai yang terserap.
Fiksi menumbuhkan empati dan imajinasi, sedangkan nonfiksi memperkuat logika dan wawasan.
Keduanya saling melengkapi, membentuk masyarakat yang cerdas secara intelektual dan hangat secara emosional, pondasi penting bagi generasi pembaca masa depan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni