RADARTUBAN - Perasaan insecure atau tidak aman sering dianggap remeh, padahal ini adalah masalah psikologis serius yang sering tidak disadari oleh penderitanya.
Masalah ini dapat menyerang siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Karena itu, penting untuk memahami akar penyebab dan cara mengelolanya agar tidak mengganggu kualitas hidup.
Hal ini dibahas dalam podcast Tutur Kata di kanal YouTube The Sungkars, Intan Erlita Novianti, M.Psi, seorang psikolog.
Menurutnya, perasaan insecure muncul dari berbagai sumber, mulai dari tekanan sosial, perbandingan diri dengan orang lain, hingga ketidakmampuan mengenali diri sendiri secara utuh.
“Banyak banget orang yang enggak sadar kalau dia itu sebenarnya lagi insecure. Justru dia anggap itu sebagai hal yang biasa atau cuman lagi enggak enak hati,” ujar Intan Erlita, menyoroti betapa seringnya masalah ini terlewat.
Ketidakpastian dan ketakutan akan penilaian orang lain seringkali menjadi akar dari rasa ini.
Kondisi ini perlu dihadapi dengan pendekatan yang terdiri dari menyadari bahwa insecure itu normal, mengatur pola pikir yang sehat, serta membangun rasa percaya diri secara bertahap.
Menurut Intan Erlita, salah satu pemicu utama insecure adalah kegagalan kita dalam mengapresiasi usaha sendiri.
“Kadang insecure itu muncul karena kita tidak menyadari bahwa kita sudah melakukan yang terbaik. Maka, menerima diri sendiri adalah langkah awal yang sangat penting,” tegasnya.
Cobalah untuk berhenti membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis dan fokus pada perkembangan pribadi.
Salah satu cara efektif adalah dengan selalu mengingatkan diri bahwa setiap individu tidak sempurna dan memiliki keunikan yang patut diapresiasi.
Selain itu, mengelola ekspektasi diri dan tidak membandingkan perjalanan hidup dengan orang lain dapat membantu meringankan beban pikiran.
Masalah insecure bukanlah tanda kelemahan, melainkan sinyal bagi kita untuk introspeksi dan berbuat sesuatu yang lebih baik.
Dengan memahami akar masalah dan berlatih mengelola pikiran serta emosi, seseorang bisa keluar dari lingkaran perasaan negatif ini dan mulai membangun rasa percaya diri yang sehat.
Penting juga untuk memiliki lingkungan yang suportif serta berani berbagi perasaan dengan orang terpercaya agar mendapat dukungan.
"Kepercayaan diri bukan berarti kamu harus sempurna, tapi kamu berani menjadi diri sendiri sepenuhnya tanpa perlu menyembunyikan kekurangan,” tutup Intan Erlita.
Kesadaran dan pengelolaan diri yang baik dari perasaan insecure akan membentuk pribadi yang lebih kuat menghadapi berbagai tantangan hidup.
Diharapkan hal ini dapat menjadi pengingat dan penyemangat untuk tidak membiarkan insecure menguasai hidup, tetapi mengubahnya menjadi kekuatan untuk tumbuh dan berkembang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni