RADARTUBAN - Di tengah gempuran buah-buahan impor dan tren makanan sehat modern, ada satu buah lokal yang pelan-pelan mulai terlupakan: rukam, atau sering juga disebut rukem.
Buah ini berwarna merah tua, bentuknya bulat agak gepeng, dan punya rasa yang unik—sepet manis.
Sebelum dimakan, biasanya buah rukam perlu “diunyet” atau dipijit-pijit dulu agar teksturnya lebih lembut dan rasa sepatnya berkurang.
Bagi generasi muda, nama rukam mungkin terdengar asing. Tapi bagi orang tua atau warga desa, buah ini adalah bagian dari kenangan masa kecil.
Dulu, pohon rukam tumbuh liar di pekarangan atau pinggir sawah.
Anak-anak memanjat pohonnya, memetik buahnya, lalu makan sambil meringis karena rasa sepet yang khas.
Kandungan Gizi dan Khasiat Kesehatan
Meski kurang populer, buah rukam punya khasiat yang luar biasa. Kandungan vitamin C-nya cukup tinggi, menjadikannya buah yang baik untuk menjaga daya tahan tubuh.
Selain itu, rukam juga kaya akan antioksidan yang berfungsi menangkal radikal bebas—zat yang bisa memicu berbagai penyakit kronis seperti penyempitan pembuluh darah, hipertensi, bahkan kanker.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa ekstrak buah rukam memiliki potensi sebagai agen anti-inflamasi dan antimikroba.
Artinya, buah ini bisa membantu meredakan peradangan dan melawan infeksi ringan. Tak heran jika di beberapa daerah, rukam juga digunakan sebagai bahan obat tradisional.
Buah yang Nyaris Punah
Sayangnya, keberadaan pohon rukam kini semakin langka.
Jarang ditanam, tidak dibudidayakan secara komersial, dan kalah pamor dengan buah-buahan lain yang lebih “Instagramable”.
Padahal, rukam punya potensi besar sebagai buah lokal yang bisa diangkat kembali, baik dari sisi kesehatan maupun nilai budaya.
Kayu dari pohon rukam juga dikenal sangat keras dan dulu sering digunakan sebagai bahan galah pedati atau alat rumah tangga.
Pohonnya bisa tumbuh hingga 15 meter, dengan batang berduri dan bentuk yang khas.
Saatnya Menghidupkan Kembali Rukam
Rukam bukan sekadar buah. Melainkan, bagian dari identitas lokal yang menyimpan nilai sejarah, kesehatan, dan kebersamaan.
Menghidupkan kembali rukam berarti menjaga warisan alam dan budaya yang hampir punah.
Pemerintah daerah, komunitas pertanian, dan pecinta tanaman lokal bisa mulai menggalakkan penanaman rukam sebagai bagian dari gerakan “lokal pride”.
Bagi generasi muda, mengenal rukam bisa jadi pengalaman baru yang menyegarkan.
Karena di balik rasa sepetnya, ada manis yang menyimpan cerita panjang tentang masa lalu, kesehatan, dan kearifan lokal. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama