RADARTUBAN - Generasi Z, yang lahir di era digital, kini menghadapi berbagai tantangan hidup, terutama kesehatan mental dan keuangan.
Di tengah tekanan dunia kerja korporat dan kemudahan teknologi, menjaga keseimbangan hidup menjadi semakin sulit.
Banyak dari mereka merasa terjebak dalam "mental tempe".
Menurut KBBI, "mental tempe" merupakan ungkapan kiasan yang merujuk pada mentalitas yang rapuh, yaitu kepribadian atau kondisi psikologis yang meyakini ketidakmampuannya dalam menghadapi tantangan dalam tekanan kerja dan gaya hidup yang tidak seimbang.
Kesehatan mental sangat diperhatikan oleh generasi yang lahir dalam zaman digital ini.
Hal tersebut dibahas oleh David Noah, Oza Rangkuti dan Shahabi sabri dalam podcast Get Wealth Soon di kanal YouTube NOICE.
Generasi Z dihadapkan pada dilema antara menjalankan pekerjaan utama dengan harapan finansial yang cukup, dan mengejar pendapatan tambahan melalui pekerjaan sampingan atau investasi.
Hal ini menuntut mereka untuk terus berjuang tetapi tetap menjaga kesehatan dan produktivitas.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi "mental tempe" adalah:
1. Mengembangkan cara pandang positif guna menumbuhkan potensi diri.
2. Tidak terpengaruh pada komentar atau pendapat negatif orang lain.
3. Meningkatkan dan mengasah keahlian serta keterampilan pribadi.
4. Mempelajari cara berinteraksi sosial dan bekerja sama dengan individu dari berbagai macam karakter.
5. Menghabiskan waktu dengan lingkungan yang memberikan dukungan dan motivasi positif.
“Kerja keras menjadi keharusan mutlak, bukan pilihan,” ungkap David Noah.
Namun, kerja keras harus diimbangi dengan kerja cerdas, dengan strategi keuangan yang tepat.
Investasi dianggap sebagai langkah untuk menciptakan sumber pendapatan kedua yang dapat menopang kebutuhan hidup tanpa bergantung pada kerja aktif.
Financial freedom (kebebasan finansial), yaitu kondisi di mana hasil investasi mampu menutupi seluruh biaya hidup, sehingga seseorang dapat hidup dengan minimalis dan mengerjakan passionnya tanpa tekanan keuangan.
Pentingnya generasi Z belajar menjadi generalis terlebih dahulu sebelum mengkhususkan diri.
Hal ini karena pengalaman luas di berbagai bidang dapat membantu mereka menemukan passion sejati dan potensi terbaik.
Jangan mudah terpengaruh oleh perbandingan di media sosial yang sering kali menampilkan “panggung glamor” tanpa melihat perjuangan di balik layar.
Tekanan ekonomi bagi mereka yang tergolong sandwich generation, harus menghidupi orang tua sekaligus mempersiapkan masa depan diri sendiri.
“Jangan anggap tanggung jawab sebagai beban, tetapi sebagai kesempatan berbuat baik,” jelas David Noah. Pesan tersebut mengajak generasi Z untuk menyelaraskan etos kerja dengan keseimbangan hidup, investasi masa depan, dan kesehatan mental agar dapat meraih kebebasan finansial dan kebahagiaan sejati. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni