RADARTUBAN – Penyanyi muda Bernadya membagikan perjalanan inspiratif di balik kesuksesannya menembus industri musik Indonesia.
Dalam siniar “Pod. 301 Bernadya TALKS ABOUT MANIFESTING HER DREAMS” di kanal YouTube Makna Talks, yang dipandu oleh Yas Lawrence, ia mengungkap bagaimana kekuatan niat, ketulusan, dan kerja keras membentuk kariernya yang kini sedang bersinar.
Semua Berawal dari Buku Manifestasi
Bernadya percaya bahwa kesuksesan tak pernah datang secara kebetulan.
Ia mengandalkan buku manifestasi—catatan pribadi berisi mimpi dan target yang ditulis secara rinci.
“Aku tulis semuanya detail, bahkan sampai angkanya. Salah satunya, targetku dulu cuma 4 juta pendengar di Spotify tahun 2025. Tapi waktu aku buka lagi, ternyata sudah lebih dari 16 juta monthly listener,” ujarnya penuh syukur.
Selain soal karier, Bernadya juga menulis keinginannya untuk membeli rumah di usia muda dan pindah ke Jakarta di umur 18 tahun demi mengejar karier musik.
Menurutnya, menulis mimpi membuat energi dan fokus hidupnya lebih terarah.
“Energi kita jadi tertuju ke hal-hal yang kita tulis. Itu cara sederhana tapi sangat kuat,” tegasnya.
Proses Kreatif: Antara Kejujuran dan Imajinasi
Dalam menciptakan lagu, Bernadya dikenal karena lirik-lirik jujurnya. Namun, ia mengaku tak semua karya lahir dari kisah pribadi.
“Kadang satu lagu cuma 10 persen dari ceritaku, sisanya campuran dari pengalaman orang lain. Aku enggak pernah bilang mana yang nyata dan mana yang fiksi,” jelasnya.
Bernadya juga mengungkap pentingnya kolaborasi dengan produser seperti Rendy Pandugo dan Lafa Pratomo, yang disebutnya mampu memahami “bahasa musiknya” meski sering disampaikan dengan cara tak biasa.
“Kadang aku bilang lagunya pengin terdengar ‘kotor’ atau ‘warnanya pink’, tapi mereka langsung paham,” tuturnya sambil tertawa.
Tantangan Setelah Popularitas
Kesuksesan besar di usia muda, termasuk raihan AMI Awards, ternyata membawa tantangan baru bagi Bernadya.
Ia merasa perlu menjaga ekspektasi publik sekaligus menghadapi tekanan sosial sebagai figur terkenal.
“Aku suka takut kalau ketemu orang baru. Kadang mikir, ‘Dia tulus enggak, ya?’ atau cuma karena aku Bernadya,” ucapnya jujur.
Meski begitu, ia berusaha tetap menjadi diri sendiri dan membuktikan bahwa meniti jalur seni adalah pilihan hidup yang layak dihargai.
“Mama dulu pengin aku jadi dokter gigi. Tapi aku ingin buktiin kalau sukses juga bisa lewat jalan yang kita cintai,” katanya dengan senyum.
Langkah ke Depan: Musik yang Penuh Syukur
Menatap masa depan, Bernadya ingin karya-karyanya tumbuh bersama dirinya — lebih dewasa, penuh rasa, dan tidak hanya berbicara soal luka.
“Mungkin nanti aku pengin lagu-laguku lebih banyak tentang rasa syukur, bukan cuma soal disakiti,” ujarnya lembut.
Dengan disiplin, kejujuran, dan keyakinan pada kekuatan manifestasi, Bernadya terus membuktikan bahwa mimpi yang ditulis dengan tekad bisa berubah menjadi kenyataan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni