RADARTUBAN – Gen Z tumbuh di era digital, di mana komunikasi tidak lagi bergantung pada suara atau tatap muka.
Mereka lebih nyaman dengan teks, emoji, dan bubble chat. Tapi di balik kemudahan itu, ada gaya komunikasi yang unik.
Kadang bikin generasi lain bingung, kadang bikin teman sendiri bertanya-tanya: “Kok nggak dibalas, padahal online?”
Salah satu ciri khas komunikasi Gen Z adalah anti-telepon. Bagi mereka, telepon dianggap terlalu invasif, terlalu mendadak, dan bikin canggung.
Mereka lebih memilih chat yang bisa dibaca kapan saja, dibalas nanti, atau bahkan... tidak dibalas sama sekali.
Baca Juga: Terjebak Mental Tempe? Ini Strategi Gen Z Hadapi Tekanan Kerja dan Kejar Kebebasan Finansial
Strategi “Lihat Tapi Jangan Dibalas”
Fenomena “lihat chat di bubble, tapi nggak dibalas” bukan karena tidak peduli. Kadang, itu adalah strategi komunikasi.
Gen Z tahu bahwa aplikasi chat seperti WhatsApp atau Instagram punya fitur “read receipt” atau tanda centang biru.
Maka, mereka memilih membaca lewat notifikasi atau preview bubble agar tidak terlihat sudah membaca.
Tujuannya? Bisa macam-macam: Belum siap membalas, tak ingin terlihat terlalu cepat merespons, butuh waktu untuk menyusun jawaban, atau memang malas membalas.
Ini bukan berarti mereka tidak sopan. Tapi bagi Gen Z, komunikasi digital punya etika dan ritme sendiri.
Tidak semua pesan harus dibalas saat itu juga. Tidak semua obrolan harus direspons dengan basa-basi.
Basa-Basi Dianggap Tidak Efisien
Gen Z cenderung menghindari basa-basi yang dianggap tidak perlu. Mereka lebih suka to the point, langsung ke inti, dan tidak bertele-tele.
Kalimat seperti “Hai, apa kabar?” kadang dianggap terlalu formal atau tidak relevan, terutama jika konteksnya urusan kerja atau tugas.
Mereka lebih suka pesan seperti: “Udah dikirim ya.” “Deadline jam 5.” “Bisa call jam 3?”
Efisiensi adalah kunci. Tapi di sisi lain, gaya ini bisa terasa dingin atau kurang personal bagi generasi yang terbiasa dengan sapaan hangat dan obrolan pembuka.
Baca Juga: 10 Keterampilan Wajib Gen Z Kalau Mau Sukses di Dunia Kerja Modern, Sudah Punya yang Mana?
Adaptasi Antar Generasi
Gaya komunikasi Gen Z bukan salah atau benar, tapi hasil dari adaptasi terhadap teknologi dan budaya digital.
Yang penting adalah saling memahami. Generasi lain perlu belajar bahwa “tidak dibalas” bukan selalu berarti “tidak peduli.” Sementara Gen Z juga perlu menyadari bahwa komunikasi bukan hanya soal isi, tapi juga rasa.
Karena pada akhirnya, komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tapi juga membangun hubungan.
Dan di era digital, membangun hubungan butuh lebih dari sekadar bubble chat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni