Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Self-Serving Bias: Kenapa Kita Sering Menyalahkan Orang Lain Saat Gagal?

M. Afiqul Adib • Kamis, 23 Oktober 2025 | 00:04 WIB
lustrasi Self-Serving Bias, psikologi yang sering kita abaikan
lustrasi Self-Serving Bias, psikologi yang sering kita abaikan

RADARTUBAN - Pernah nggak sih kamu gagal dalam suatu hal, lalu refleks menyalahkan orang lain? Misalnya, gagal ujian karena “soalnya susah”, atau proyek kerjaan berantakan karena “tim nggak kompak”.

Padahal, kalau berhasil, kita langsung bilang, “Itu karena usaha saya.” Nah, itulah yang disebut self-serving bias, yaitu kecenderungan manusia untuk mengaitkan keberhasilan pada diri sendiri, dan menyalahkan faktor eksternal saat gagal.

Self-serving bias adalah mekanisme psikologis yang bertujuan melindungi harga diri.

Ia membuat kita merasa lebih baik tentang diri sendiri, meski kenyataannya tidak selalu sesuai.

Bias ini umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kerja, pendidikan, maupun hubungan sosial.

Contoh Nyata Self-Serving Bias

• Di sekolah: Saat dapat nilai bagus, kita bilang “Saya memang belajar keras.” Tapi saat nilainya jelek, kita bilang “Soalnya nggak masuk akal.”

• Di tempat kerja: Ketika proyek sukses, kita merasa “Itu karena ide saya.” Tapi saat gagal, kita menyalahkan klien, rekan kerja, atau deadline.

• Dalam hubungan: Ketika hubungan berjalan baik, kita merasa “Saya pasangan yang pengertian.” Tapi saat konflik muncul, kita bilang “Dia yang nggak peka.”

Tanpa disadari, bias ini bisa merusak hubungan, menghambat pertumbuhan pribadi, dan membuat kita sulit belajar dari kesalahan.

Kenapa Self-Serving Bias Terjadi?

Ada beberapa alasan kenapa bias ini muncul:

• Melindungi ego: Kita ingin merasa kompeten dan berharga, jadi kegagalan dianggap sebagai ancaman.

• Norma sosial: Masyarakat sering menilai orang dari hasil, bukan proses. Maka, kita terdorong untuk tampil baik di mata orang lain.

• Kurangnya refleksi diri: Kita jarang meluangkan waktu untuk benar-benar mengevaluasi apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya.

Cara Mengatasi Self-Serving Bias

1. Latih refleksi diri: Setelah gagal, tanyakan pada diri sendiri, “Apa yang bisa saya lakukan lebih baik?”

2. Terima kegagalan sebagai bagian dari proses: Gagal bukan berarti tidak mampu, tapi sedang belajar.

3. Berani bertanggung jawab: Mengakui kesalahan bukan kelemahan, tapi tanda kedewasaan.

4. Evaluasi objektif: Libatkan orang lain untuk memberi perspektif yang jujur dan seimbang.

Dengan menyadari dan mengurangi self-serving bias, kita bisa tumbuh lebih sehat secara mental dan emosional.

Kita jadi lebih terbuka terhadap kritik, lebih bijak dalam mengambil keputusan, dan lebih adil dalam menilai diri sendiri maupun orang lain.

Belajar dari Gagal, Bukan Menyalahkan

Gagal itu wajar. Tapi menyalahkan orang lain setiap kali gagal, itu yang perlu diwaspadai.

Karena kalau terus begitu, kita akan kehilangan kesempatan untuk belajar dan berkembang.

Self-serving bias mungkin membuat kita merasa nyaman sesaat, tapi jangka panjangnya bisa menghambat kemajuan.

Jadi, lain kali kalau gagal, coba tarik napas, lihat ke dalam, dan jujur pada diri sendiri.

Karena kadang, yang perlu diperbaiki bukan orang lain, tapi cara kita melihat dan memahami kegagalan itu sendiri. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Menyalahkan Orang Lain #self serving bias #psikologis #ego #Cara Mengatasi Self Serving Bias #melindungi harga diri