RADARTUBAN — Fenomena xenophobia atau rasa takut dan benci terhadap orang asing kembali merebak di berbagai belahan dunia.
Para imigran kerap dianggap mengganggu tatanan sosial dan budaya setempat—mulai dari Jepang, Australia, negara-negara Eropa, hingga kawasan Asia Tenggara, termasuk kasus Rohingya di Indonesia.
Gelombang Migrasi dan Benturan Budaya
Analisis mendalam mengenai fenomena ini diulas dalam podcast NEW HYB di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara pada Senin (20/10), menghadirkan Guru Gembul, seorang aktivis dan akademisi.
Menurutnya, gelombang migrasi besar-besaran yang terjadi saat ini tak lepas dari ketimpangan global.
Negara-negara makmur menikmati stabilitas dan kemakmuran, sementara negara miskin bergulat dengan konflik dan ketidakpastian, memaksa warganya mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri.
Namun, kedatangan imigran ini sering kali menimbulkan gesekan budaya.
“Imigran membawa karakteristik dan kebiasaan dari tempat asalnya yang kadang sulit diterima di negara tujuan,” ujar Guru Gembul.
Contoh Kasus di Berbagai Negara
Fenomena ini dapat ditemukan di berbagai tempat. Imigran asal Brasil di Jepang menghadapi stereotip negatif.
Sementara di Australia dan Inggris, meningkatnya kasus kriminal melibatkan warga pendatang membuat sebagian masyarakat merasa tidak aman.
Di Eropa, anak-anak imigran dari Timur Tengah juga seringkali dianggap tidak berprestasi di bidang akademik, memperkuat prasangka sosial.
Sentimen yang Dipolitisasi
Guru Gembul menyoroti bahwa sentimen xenofobia sering dimanfaatkan untuk kepentingan politik.
“Ada buzzer-buzzer yang memelintir fakta untuk membentuk opini negatif terhadap kelompok tertentu,” katanya.
Ia mencontohkan kasus Rohingya di Indonesia, yang awalnya mendapat simpati luas, namun kemudian dibanjiri hujatan.
Pergeseran opini publik ini, menurutnya, bukanlah fenomena alami, melainkan hasil penggiringan isu yang terorganisir.
Di Eropa, isu imigran kerap dijadikan bahan kampanye oleh partai-partai sayap kanan menjelang pemilu.
Sementara di Amerika Serikat, kebijakan keragaman di perusahaan besar malah menciptakan preferensi tertentu terhadap imigran India yang dianggap “aman dan berpendidikan.”
“Mental Kawanan” dan Dampak Global
Guru Gembul menyebut fenomena xenofobia sebagai bentuk “mental kawanan” manusia—naluri untuk melindungi diri dari sesuatu yang dianggap asing atau mengancam.
Namun, di era digital, rasa takut ini dengan cepat membesar melalui media sosial, menciptakan efek bola salju.
“Ini bukan sekadar kebencian, tapi reaksi dari ketimpangan global yang ekstrem,” tegasnya.
Ajakan untuk Toleransi
Guru Gembul menutup dengan seruan agar masyarakat dunia, termasuk Indonesia, mengedepankan toleransi dan keterbukaan terhadap perbedaan.
Ia berharap dunia tidak terjebak dalam siklus kebencian terhadap orang asing, melainkan bersama mencari solusi atas akar masalahnya: ketimpangan dan ketidakadilan global.
“Xenofobia hanya bisa diatasi jika manusia belajar memahami, bukan takut terhadap perbedaan,” pungkasnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni