Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Menulis di Tengah Dunia yang Serba Cepat: Siapa yang Sebenarnya Kita Kejar?

M. Afiqul Adib • Senin, 27 Oktober 2025 | 21:10 WIB
Menulis di era digital, dunia serba cepat, refleksi penulis, siapa yang kita kejar, proses menulis, menulis dengan tujuan.
Menulis di era digital, dunia serba cepat, refleksi penulis, siapa yang kita kejar, proses menulis, menulis dengan tujuan.

RADARTUBAN - Menulis dulu adalah proses yang tenang. Duduk di meja, menatap kosong ke luar jendela, lalu perlahan merangkai kata demi kata.

Sekarang, menulis harus cepat. Harus relevan. Harus viral. Harus selesai sebelum tren berganti. Dunia berubah, dan tulisan pun ikut dikejar waktu.

Di tengah dunia yang serba cepat ini, kita sering lupa: siapa yang sebenarnya kita kejar saat menulis?

Pembaca? Algoritma? Validasi? Atau diri sendiri?

Menulis Bukan Lagi Soal Rasa, Tapi Soal Performa

Platform digital membuat menulis jadi kompetisi.

Tulisan harus punya engagement, harus punya clickbait, harus punya “hook” di paragraf pertama.

Kita tidak lagi menulis untuk menyampaikan isi hati, tapi untuk memenuhi ekspektasi pasar. Bahkan tulisan reflektif pun kadang harus dikemas dengan gaya yang “menjual”.

Akibatnya, banyak penulis yang kehilangan arah. Menulis jadi tugas, bukan proses. Jadi beban, bukan pelipur.

Dan di tengah semua itu, kita bertanya-tanya: apakah tulisan kita masih punya jiwa?

Siapa yang Sebenarnya Kita Kejar?

Pertanyaan ini penting. Karena kalau kita menulis hanya untuk kejar likes, views, atau pujian, maka kita akan terus merasa kurang.

Selalu ada tulisan yang lebih viral, lebih lucu, lebih menyentuh.

Tapi kalau kita menulis untuk memahami diri sendiri, untuk menyampaikan keresahan, untuk merawat ingatan, maka tulisan jadi ruang aman. Tempat pulang.

Menulis bukan soal siapa yang membaca, tapi siapa yang berani jujur. Dan kadang, pembaca terbaik adalah diri kita sendiri di masa depan.

Menulis Adalah Cara Melawan Kecepatan

Di dunia yang serba cepat, menulis adalah bentuk perlawanan. Dia memaksa kita berhenti sejenak, merenung, dan memilih kata dengan hati-hati.

Dia mengajak kita untuk tidak ikut terburu-buru, untuk tidak selalu mengikuti arus, untuk tidak selalu tampil.

Menulis adalah cara untuk tetap waras. Untuk tetap punya ruang berpikir. Untuk tetap punya suara di tengah kebisingan.

Menulis Pelan-Pelan, Menulis dengan Tujuan

Jadi kalau hari ini kamu menulis dan merasa lambat, tidak viral, tidak dibaca banyak orang itu tidak apa-apa. Karena menulis bukan lomba.

Dia adalah proses. Dan proses itu tidak harus cepat, tidak harus ramai, tidak harus sempurna.

Yang penting, kamu tahu kenapa kamu menulis.

Dan kamu tahu siapa yang kamu kejar. Kalau jawabannya adalah kejujuran, maka tulisanmu sudah sampai di tempat yang paling penting: hati yang tulus. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#engagement #jiwa #penulis #proses #menulis #view #masa depan #likes