RADARTUBAN - Anak laki-laki yang tumbuh dalam keluarga harmonis ternyata tetap memiliki kemungkinan untuk menjadi sosok ayah yang mengalami kondisi fatherless, yaitu kekurangan figur ayah secara emosional di masa depan.
Hal ini diungkapkan oleh psikolog Widya Sari, M.Psi., dalam wawancara di Jakarta Selatan, Kamis (23/10), dikutip dari Kompas.com
Menurut Widya, meskipun lingkungan keluarga yang harmonis memberikan dukungan dan perlindungan yang signifikan, hal itu tidak menjamin anak akan terbebas dari masalah emosional di masa depan.
“Tidak ada orang yang kebal terhadap masalah,” jelas Widya.
Lingkungan keluarga yang baik memang meningkatkan kemungkinan tumbuh menjadi individu yang positif.
Namun, pengalaman di luar rumah, seperti di sekolah atau tempat kerja, juga mempengaruhi pola pikir dan perasaan anak.
Widya menambahkan bahwa anak laki-laki tidak hanya belajar dari apa yang mereka saksikan di rumah, tetapi juga dari interaksi sosialnya yang lain.
Seiring bertambahnya usia, anak dapat mengalami pengalaman berbeda yang dapat mempengaruhi cara mereka memandang dunia dan membentuk karakter mereka sebagai ayah kelak.
Keluarga harmonis memang memberikan pijakan mental yang kuat bagi anak, namun penting bagi orang tua untuk tetap waspada dan memperhatikan lingkungan sosial yang dimasuki anak.
Dukungan emosional yang komprehensif sangat dibutuhkan bukan hanya berupa materi atau perhatian formal, melainkan pemahaman dan perhatian yang mendalam terhadap kondisi psikologis anak.
Fenomena ini mempertegas bahwa sosok ayah yang sebenarnya bukan hanya soal kehadiran fisik, tetapi juga peran emosional dan keterlibatan aktif yang sangat menentukan perkembangan psikologis anak laki-laki menjadi ayah yang sehat secara emosional.
Dengan demikian, meskipun anak berasal dari keluarga harmonis, perhatian terhadap perkembangan emosional dan sosialnya tetap mutlak untuk mencegah terjadinya pola yatim yang berulang. (*/tia)
Editor : radar tuban digital