RADARTUBAN - Ada jenis kehilangan yang tidak tercatat di buku harian, tidak bisa dijelaskan ke teman, dan tidak punya bukti fisik.
Kehilangan yang bahkan belum sempat dimiliki. Tapi entah kenapa tetap terasa berat di dada.
Seperti menunggu seseorang yang tidak pernah datang, atau berharap pada sesuatu yang tidak pernah menjanjikan apa-apa.
Ini bukan tentang putus cinta. Bukan tentang kehilangan barang. Tapi tentang rasa yang tumbuh diam-diam, lalu hilang tanpa pernah sempat jadi nyata.
Ketika Harapan Lebih Nyata dari Kenyataan
Kadang, kita jatuh hati pada kemungkinan. Pada versi ideal dari seseorang, atau skenario hidup yang kita bayangkan sendiri.
Kita membangun harapan, menyusun rencana, dan memberi makna pada setiap interaksi kecil.
Padahal, semua itu belum tentu saling. Belum tentu nyata. Belum tentu milik kita.
Tapi rasa itu tetap tumbuh. Dan ketika akhirnya harus dilepaskan, rasanya seperti kehilangan sesuatu yang penting, meski orang lain tidak akan pernah mengerti.
Merelakan Tanpa Pernah Memiliki
Merelakan sesuatu yang pernah dimiliki itu sulit. Tapi merelakan sesuatu yang bahkan belum sempat jadi milik kita?
Itu jauh lebih rumit. Karena tidak ada penutup. Tidak ada akhir. Tidak ada alasan yang bisa dijadikan pegangan.
Yang ada hanya diam. Hanya jeda. Hanya kita yang tahu bahwa ada bagian dari hati yang harus dibereskan, meski tidak pernah berantakan secara resmi.
Rasa yang Tidak Perlu Dijelaskan
Kehilangan semacam ini tidak perlu dijelaskan. Tidak perlu dibenarkan. Tidak perlu diminta pengertian. Karena ia adalah proses internal. Proses yang sunyi.
Proses yang kadang hanya bisa diselesaikan lewat tulisan, tangisan pelan, atau doa yang tidak disebutkan namanya.
Dan itu tidak apa-apa. Karena tidak semua rasa harus punya cerita. Tidak semua harapan harus punya hasil. Tidak semua kehilangan harus punya pelaku.
Merelakan Adalah Bentuk Cinta yang Paling Dewasa
Merelakan bukan berarti kalah. Bukan berarti menyerah. Tapi bentuk cinta yang paling dewasa. Cinta yang tidak memaksa.
Cinta yang tahu kapan harus berhenti. Cinta yang tidak menuntut balasan, tapi tetap tulus dalam diam.
Karena kadang, yang paling menyakitkan bukan kehilangan orangnya, tapi kehilangan versi diri kita yang sempat berharap. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni