Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Capek Jadi Sempurna? Selebgram Gen Z Sekarang Justru Viral Gara-Gara Berani Tampil Apa Adanya!

Siska Yudianti • Kamis, 30 Oktober 2025 | 15:31 WIB
Tren baru di media sosial selebgram Gen Z tampil tanpa filter, curhat jujur, dan justru makin disukai netizen.
Tren baru di media sosial selebgram Gen Z tampil tanpa filter, curhat jujur, dan justru makin disukai netizen.

RADARTUBAN – Feed mulus, tone senada, outfit kece, dan senyum seolah hidup tanpa drama — dulu itu formula sakti jadi selebgram sukses. Tapi sekarang? Nggak lagi, bestie.

Generasi Z — yang dulu tumbuh bareng filter Instagram dan efek beauty cam — kini justru berbalik arah.

Mereka capek kelihatan sempurna. Yang lagi naik daun sekarang bukan “perfect life”, tapi “real life.” Bukan pencitraan, tapi perasaan.

Dari Estetika ke Empati

Coba deh scroll Instagram atau TikTok akhir-akhir ini. Banyak selebgram muda mulai tampil apa adanya.

Kadang posting foto muka lecek setelah nangis. Kadang curhat soal burnout, insecure, bahkan mental drop.

Lihat aja Keisya Levronka atau Ratu Rafa — dua figur yang berani tampil tanpa polesan dan ngomong jujur soal overthinking di tengah spotlight.

Mereka nggak lagi takut dikira “tidak sempurna”. Karena buat Gen Z, real jauh lebih keren daripada pretend.

Seorang pakar media digital dari Universitas Indonesia bilang, “Keaslian adalah daya tarik baru. Netizen sekarang lebih menghargai yang jujur daripada yang tampak sempurna.”

Dan ya, itu kebukti banget.

Netizen Sekarang Lebih Pilih yang Jujur daripada yang Glamor

Data dari Pew Research Center bahkan mendukung tren ini. Sebanyak 72 persen Gen Z lebih percaya influencer yang tampil real, bukan yang terlalu “kinclong buat jadi nyata.”

Mereka nggak butuh panutan yang hidupnya kayak katalog fashion — tapi teman virtual yang bisa bikin mereka merasa, “Oh, ternyata gue nggak sendiri.”

Makanya tren seperti #BeReal, #UnfilteredMe, #HotMessTrend, dan #NoMakeupDay meledak di TikTok.

Video sambil nangis? Viral.

Story muka jerawatan? Disayang netizen.

Ironi? Mungkin. Tapi juga bukti bahwa dunia digital mulai nyadar kalau manusia itu ya nggak harus selalu bahagia.

Self-Love Bukan Lagi Quotes di Bio, Tapi Gaya Hidup

Fenomena “authentic life” ini juga nyambung sama gerakan self-love dan mental health awareness yang makin nyaring di kalangan muda.

Gen Z tahu: nggak ada gunanya bandingin hidup dengan standar Instagram yang penuh editan.

Kerja keras tetap penting, tapi healing juga wajib.

Karier keren boleh, tapi mental sehat jauh lebih berharga.

“Kalau dulu posting harus sempurna, sekarang justru yang raw, yang jujur, yang real — itu yang dapet cinta,” kata seorang kreator konten lokal Tuban yang sempat viral karena curhat soal burnout kerja di caption reels-nya.

Brand dan Agensi Mulai Ikut Ngegas ke Arah ‘Real’

Yang lucu, tren ini sekarang mulai nular ke dunia marketing. Brand-brand gede udah mulai sadar: people trust people, not perfection.

Contohnya, Erigo dan Buttonscarves kini justru menggandeng influencer yang berani tampil jujur — bukan yang cuma jualan pose dan aesthetic feed.

Yang dicari sekarang bukan “public image”, tapi “public connection”.

Nggak penting seberapa banyak followers, tapi seberapa dalam engagement yang real.

Authenticity Is the New Currency

Boleh aja feed masih estetik, tapi itu bukan segalanya. Yang lebih mahal sekarang adalah kejujuran — mata uang baru dunia digital.

Sosial media bukan lagi ajang adu kesempurnaan, tapi ruang buat ngomong, “Gue juga capek, tapi gue masih berjuang.”

Real Is Rare, dan Justru Itu yang Dicari

Generasi Z pelan-pelan ngajarin satu hal penting:

Dalam dunia yang penuh kepalsuan, jadi diri sendiri itu bentuk rebel paling keren.

Jadi kalau besok kamu pengin posting foto tanpa filter, caption jujur, atau cerita soal hari burukmu — lakuin aja.

Karena sekarang, real is the new pretty. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kelihatan sempurna #overthinking #media sosial #generasi Z