RADARTUBAN – Kalau dulu nongkrong di kafe cuma soal latte art lucu, sudut estetik buat foto, dan playlist lo-fi yang menenangkan, sekarang vibe-nya udah naik level. Anak muda nggak lagi sekadar ngopi buat konten — tapi ngopi buat bumi.
Welcome to the era of Sustainable Coffee Life — gaya hidup hijau yang lagi naik daun di kalangan Gen Z dan milenial.
Konsepnya simpel tapi keren: menikmati kopi sambil tetap peduli sama lingkungan.
Dari Estetik ke Etik: “Ngopi dengan Hati”
Kafe-kafe kekinian di berbagai kota mulai sadar: sustainability bukan cuma jargon.
Dari biji kopi organik, sedotan stainless, sampai dekorasi interior dari kayu daur ulang — semuanya dirancang buat menciptakan ruang yang lebih ramah bumi.
Kafe seperti Titik Temu Coffee di Bali dan Sejauh Mata Memandang Café di Jakarta jadi contoh paling nyolok.
Mereka berhasil bikin “ngopi hijau” tetap terlihat artsy dan punya makna. Bukan cuma tempat buat foto-foto, tapi juga jadi ruang ngobrol tentang perubahan gaya hidup dan kesadaran lingkungan.
Menurut Sustainable Coffee Challenge 2024, konsumsi kopi berkelanjutan di Asia Tenggara melonjak 35 persen dalam dua tahun terakhir.
Indonesia jadi pasar paling cepat tumbuh — dan bukan karena ikut-ikutan tren, tapi karena makin banyak yang sadar kalau kopi itu punya story panjang.
“Kopi itu punya perjalanan panjang sebelum sampai ke cangkir kita. Jadi penting banget tahu asalnya, siapa yang menanam, dan gimana dampaknya buat bumi,” ujar Raka Nugraha, pendiri Kopi Lestari Project di Bali.
Ngopi Hijau, Tapi Tetap Keren
Sekarang, gaya hidup eco-friendly nggak lagi dianggap ribet atau anti-style. Justru sebaliknya — makin green, makin keren. Di media sosial muncul tren baru: #GreenCafeHopping.
Para influencer mulai bawa tumbler sendiri, nolak sedotan plastik, dan bangga posting kopi hasil seduh manual dari petani lokal.
Feed Instagram mereka tetap estetik, tapi punya makna yang lebih dalam.
Kafe berkonsep hijau juga sering jadi ruang komunitas. Di sana, orang bisa ikut workshop eco-barista, diskusi soal green living, atau cuma berbagi tips hidup lebih mindful sambil menyeruput cappuccino.
Dari Biji ke Cangkir: Kopi dengan Nilai
Gerakan ini juga membuka mata banyak orang: kopi bukan cuma soal rasa, tapi juga tanggung jawab sosial.
Brand-brand lokal seperti Tanamera Coffee, Soe Coffee, dan Klasik Beans udah lama kerja bareng petani kopi untuk sistem perdagangan adil (fair trade).
Mereka bahkan mulai pakai kemasan biodegradable dan program replanting biar lahan kopi tetap lestari.
Baca Juga: Tarif Trump Bikin Harga Kopi di AS Naik 21 Persen, Konsumen dan Pengusaha Kafe Mulai Tertekan
Ngopi di Rumah, Tetap Bisa Selamatkan Bumi
Nggak harus ke kafe buat ikut tren hijau ini. Sekarang, banyak anak muda mulai beralih ke home brewing dengan alat manual yang hemat energi.
Filter kain reusable, grinder tangan, sampai seduhan kopi Gayo atau Kintamani yang dibeli langsung dari petani — jadi gaya ngopi masa kini.
Ngopi Jadi Simbol Mindfulness
Tren ini bukan sekadar gaya hidup, tapi juga state of mind. Setiap tegukan kopi jadi momen mindfulness — menikmati proses, menghargai petani, dan menjaga bumi dalam satu waktu.
Generasi muda menyebutnya: ngopi yang bermakna. Nggak cuma keren di feed, tapi juga keren di nurani.
Karena buat mereka, gaya hidup hijau bukan soal ikut tren, tapi soal tanggung jawab kecil yang bisa bikin perubahan besar.
Green is the New Aesthetic
Sekarang ngopi bukan cuma soal rasa dan tampilan, tapi soal kesadaran. Bahwa di balik secangkir kopi yang wangi, ada bumi yang perlu dijaga. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni