RADARTUBAN - Selama ini, banyak orang meyakini bahwa berjalan kaki sebanyak 10.000 langkah per hari adalah kunci menjaga kesehatan tubuh.
Namun, bagi mereka yang fokus pada kesehatan otak, riset terbaru menunjukkan bahwa cukup dengan 3.000 langkah per hari sudah memberikan manfaat signifikan.
Penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari Universitas Harvard menemukan bahwa aktivitas ringan antara 3.001 hingga 5.000 langkah per hari dapat memperlambat penurunan fungsi kognitif dan akumulasi protein tau di otak.
Jika ingin menekan risiko Alzheimer, jumlah langkah idealnya berada di kisaran 5.001 hingga 7.500 langkah per hari.
Riset yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine ini melibatkan 294 peserta berusia 50 hingga 90 tahun, yang merupakan bagian dari Harvard Aging Brain Study.
Para peserta diketahui memiliki protein amiloid dan tau di otak, dua indikator utama penyakit Alzheimer, namun belum menunjukkan gejala demensia.
Hasil studi menunjukkan bahwa individu yang rutin berjalan sekitar 5.000 langkah per hari mengalami perlambatan penurunan daya ingat dan kemampuan berpikir dibanding mereka yang kurang aktif.
Mengapa Jalan Kaki Baik untuk Otak?
Steven Allder, ahli saraf di Re:Cognition Health, menjelaskan bahwa berjalan kaki dapat meningkatkan aliran darah dan pasokan oksigen ke otak, dua hal penting untuk menjaga fungsi neurologis optimal.
"Saat kita berjalan, detak jantung meningkat dan sirkulasi darah menjadi lebih efisien, mengirimkan oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak," ujarnya seperti dikutip dari The Independent, (4/11).
Menurut Allder, kondisi ini membantu neuron dan sinapsis tetap sehat serta merangsang pelepasan neurotransmiter seperti dopamin dan serotonin yang berperan dalam meningkatkan suasana hati, fokus, dan kewaspadaan.
Berjalan kaki secara rutin juga memperkuat pembuluh darah otak, menurunkan risiko penurunan kognitif, stroke, dan demensia.
Lebih lanjut, aktivitas berjalan cepat dapat meningkatkan produksi brain-derived neurotrophic factor (BDNF), protein yang mendukung pertumbuhan dan konektivitas sel-sel saraf di otak.
"Peningkatan BDNF berkontribusi pada daya ingat lebih tajam, kemampuan belajar yang lebih baik, serta fleksibilitas berpikir yang lebih tinggi," kata Allder.
Selain meningkatkan kognisi, berjalan di ruang terbuka juga berdampak positif pada kualitas tidur dan kesehatan mental.
Paparan sinar matahari serta suasana alam membantu mengatur ritme sirkadian dan menurunkan kadar kortisol, hormon pemicu stres.
Aktivitas ini pun merangsang pelepasan endorfin yang menimbulkan perasaan nyaman dan bahagia.
"Gerakan berjalan yang berulang menciptakan efek relaksasi alami pada tubuh, menurunkan stres, serta memperkuat koneksi saraf di otak melalui pembentukan sinapsis baru," tambah Allder.
Alder menegaskan, berjalan kaki secara teratur bukan hanya baik bagi tubuh, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk menjaga kejernihan pikiran dan kesehatan otak.(*/tia)
Editor : radar tuban digital