Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Emotional Intelligence: Kenapa Emosi Sering Mengalahkan Logika Menurut Daniel Goleman

M. Afiqul Adib • Sabtu, 8 November 2025 | 12:10 WIB

Emotional intelligence Daniel Goleman, evolusi dan emosi, refleksi psikologi manusia.
Emotional intelligence Daniel Goleman, evolusi dan emosi, refleksi psikologi manusia.

RADARTUBAN - Pernah nggak kamu marah duluan sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi? Atau langsung checkout barang padahal nggak sedang butuh. Bahkan kondisi dompet juga sedang nggak penuh.

Itu bukan karena kamu ceroboh. Itu karena pikiran emosional bergerak jauh lebih cepat daripada pikiran rasional.

Menurut Daniel Goleman dalam Emotional Intelligence, otak kita punya dua jalur: satu untuk berpikir, satu untuk merasa.

Dan jalur emosi selalu lebih dulu sampai. Ia instingtif, refleks, dan kadang mengesampingkan analisis. Kita bertindak dulu, baru mikir belakangan.

Baca Juga: Belajar Dewasa dari Kehilangan: Refleksi Emosional tentang Takdir dan Waktu

Evolusi Sudah Mengatur Begitu Sejak Awal

Ini bukan kesalahan desain. Justru ini warisan evolusi. Di masa lalu, ketika manusia masih bersaing dengan alam liar, bertindak cepat adalah kunci bertahan hidup. Kalau kamu melihat makanan, kamu ambil.

Nggak sempat mikir: “Apakah hewan lain sudah makan?” Karena kalau kamu terlalu peduli, kamu kelaparan. Dan kalau kamu kelaparan, kamu tidak punya keturunan.

Bayangkan kalau hewan-hewan zaman dulu terlalu baik hati, langsung bagi-bagi makanan ke kawanan lain.

Maka mereka tidak akan cukup kuat untuk bertahan. Tidak akan berkembang. Tidak akan jadi nenek moyang kita.

Emosi Itu Cepat, Tapi Tidak Selalu Tepat

Pikiran emosional memang cepat, tapi tidak selalu akurat. Ia bisa menyelamatkan kita, tapi juga bisa menyesatkan. Maka, tugas kita hari ini adalah belajar menyeimbangkan.

Belajar mengenali kapan emosi perlu ditahan, dan kapan logika perlu diberi ruang.

Karena kita bukan lagi hidup di hutan. Kita hidup di dunia yang butuh keputusan bijak, bukan hanya reaksi cepat.

Jadi kalau kamu merasa terlalu impulsif, terlalu cepat marah, atau terlalu cepat mengambil keputusan, itu manusiawi.

Tapi bukan berarti harus dibiarkan. Kita bisa belajar. Kita bisa melatih. Kita bisa memberi jeda antara rasa dan aksi.

Karena di era sekarang, yang bertahan bukan yang paling cepat, tapi yang paling sadar. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Daniel Goleman #emosi #rasional #Emotional Intelligence #logika #pikiran emosional