Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Fenomena Produk KW dan Dominasi China: Adythia Pratama Ungkap Masalah UKM Bukan Modal, Tapi Mindset Bisnis

Erlina Alfira Qurrotu Aini • Selasa, 11 November 2025 | 22:10 WIB
Ilustrasi seorang wanita sedang berbelanja.
Ilustrasi seorang wanita sedang berbelanja.

RADARTUBAN - Di kanal YouTube Tom MC Ifle (8/11), sebuah episode podcast bersama Adythia Pratama seorang partnership investor membahas fenomena maraknya produk China yang membanjiri pasar Indonesia dan fenomena uniknya produk KW justru diminati konsumen.

Produk-produk China dengan harga murah mendominasi pasar lokal karena ekonomi skala besar (economy of scale) yang mereka miliki, sehingga mampu memproduksi dalam volume sangat besar dengan biaya rendah.

Hal ini membuat produk lokal tak mampu bersaing dari segi harga dan kualitas jika hanya mengandalkan produk KW (produk tiruan).

Bahkan membuat produk KW pun tidak bisa menjadi solusi karena margin keuntungan akan sangat kecil dan kualitas sulit diunggulkan.

Oleh karena itu, keunggulan produk China bukan pada KW-nya, melainkan pada kapasitas produksi massal mereka yang efisien dan harga yang sangat kompetitif.

Masalah utama UKM (Usaha Kecil – Menengah) bukan semata pada modal yang minim, melainkan mindset dan nilai produk yang kurang ditekankan.

Banyak UKM yang masih berfokus pada keunikan produk dan jasa yang dianggap harus ‘unik’ secara fisik, padahal yang paling penting adalah model bisnis yang unik dan memenuhi kebutuhan pasar yang sudah ada dengan tepat.

“Bisnis harus unik, tapi bukan produk atau jasanya yang unik, melainkan model bisnisnya yang unik,” ujar Adythia.

Misalnya, UKM bisa meniru model bisnis yang sudah terbukti sukses seperti konsep langganan atau segmen pasar yang sangat spesifik sehingga tidak bersaing langsung dengan korporasi besar.

Strategi marketing viral memang bisa memberi dampak positif, tetapi biayanya tidak murah.

Oleh sebab itu, UKM harus memilih pendekatan marketing yang realistis, yaitu dengan menjual produk yang sudah jelas mempunyai kebutuhan di pasar, bukan yang memaksakan buat unik tanpa riset kebutuhan konsumen.

Pendekatan ini disebut realistic marketing yang lebih efisien dan efektif untuk UKM bertahan dan berkembang.

Dari sisi inovasi, bukan berarti UKM harus menciptakan produk baru yang super unik, melainkan harus mampu mencuri ide dari berbagai industri dan memasukkan nilai tambah unik ke dalam model bisnisnya.

Contoh model bisnis yang unik dan fokus pada segmen pelanggan tertentu, sebuah klinik kecantikan yang fokus hanya pada laser penghilang bulu ketiak dan mengemasnya dalam membership tahunan sehingga pelanggan mendapat layanan tanpa batas dengan biaya tetap.

Solusi bagi UKM adalah berani masuk ke niche market yang menguntungkan dan tidak terlalu dilirik oleh korporasi besar, sehingga bisa mengusai pasar kecil namun fokus.

Selain itu, UKM perlu belajar menerapkan strategi marketing yang efektif tanpa harus menghabiskan anggaran besar.

UKM juga harus terus berkomunikasi dengan konsumen untuk memahami kebutuhan dan keberanian melakukan pivot produk bila dibutuhkan. Justru mindset dan strategi bisnis yang cerdas yang mewarnai keberhasilan UKM di tengah persaingan global. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#UKM #Produk Tiruan #pasar Indonesia #Produk China #Produk KW