RADARTUBAN – Di balik persona jenaka “Cegil Berkelas”, Sarra Tobing menyimpan perjalanan hidup penuh luka dan perjuangan.
Dalam obrolannya dengan Andini Effendi di Cauldron Content, Sarra mengungkap stigma yang ia pikul sejak kecil sebagai anak sulung dari tiga bersaudara.
Ia kerap dicap “the ugly sibling” dan tumbuh dengan rasa tidak pas di mana pun karena latar keluarga campuran Batak–Tionghoa. Humor menjadi tamengnya sejak SD, jauh sebelum era TikTok.
Baca Juga: Britney Spears Ungkap Alami Kerusakan Saraf Akibat Tekanan Hidup dan Trauma Masa Lalu
Namun tawa itu menutupi duka panjang. Pada usia delapan tahun, hidupnya runtuh ketika kedua orang tuanya dipenjara karena kasus penipuan dan seluruh aset keluarga disita.
Ia menyaksikan adik bayinya merayakan ulang tahun di dalam sel—memori yang menempel kuat dan membentuk daya tahan mentalnya.
Pukulan terbesar terjadi pada 2023, saat ia terjebak depresi dan kecanduan alkohol hingga mengalami kecelakaan mobil yang hampir merenggut nyawanya. Momen itu menjadi titik balik.
Baca Juga: Trauma Belajar Lebih Berbahaya daripada Ketidakbisaan: Kenapa Mentalitas Belajar Perlu Dijaga
Ia mulai memulihkan diri: menjauh dari alkohol, menata pikiran, dan menemukan kembali tujuan hidup.
Dari fase kelam itu lahirlah kreator yang lebih matang. Ia memulai konten-konten curhat di TikTok dan menciptakan karakter “cegil tanpa kelas” yang jujur dan apa adanya.
Popularitasnya melejit lewat Dating Stalk Podcast—seri absurd yang menarasikan benda-benda mati dengan kisah cinta dan luka seperti manusia.
Ia mengerjakan semuanya sendiri, menandakan kedalaman kreativitasnya.
Ia juga menghadirkan Blue Chair Therapy, segmen yang mempertemukan “Sarra yang sekarang” dengan “Sarra masa lalu” sebagai simbol healing dan rekonsiliasi diri.
Kini, prinsip hidupnya sederhana: tidak mau menjadi korban. “You have to fight for your life,” tegasnya.
Sarra tak lagi mengejar validasi atau materi; ia mengejar makna dan ingin bermanfaat.
Dari anak yang dulu dianggap “buruk rupa” hingga menjadi figur inspiratif di dunia digital, Sarra membuktikan bahwa luka dan kegilaan bisa diolah menjadi kekuatan dan kelas tersendiri. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni