Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Solusi Anti-Lelah: Mengatasi Burnout dan Stres Urban dengan Kekuatan Human Design dan Mindfulness

Silva Ayu Triani • Rabu, 12 November 2025 | 04:04 WIB
Ilustrasi sebuah sesi meditasi yang dipimpin oleh Tsamara Fahrana sebagai salah satu cara mengatasi burnout dan stres urban dengan fokus pada mindfulness.
Ilustrasi sebuah sesi meditasi yang dipimpin oleh Tsamara Fahrana sebagai salah satu cara mengatasi burnout dan stres urban dengan fokus pada mindfulness.

RADARTUBAN - Kesehatan mental dan burnout menjadi isu krusial di tengah masyarakat urban yang didorong oleh ritme hidup serba cepat dan tuntutan media sosial.

Wacana mengenai pentingnya kesadaran diri (self-awareness) dan integrasi metode logis seperti Human Design dan praktik mindfulness muncul sebagai penangkal rasa kosong.

Informasi ini disampaikan oleh Tsamara Fahrana, seorang Human Design Coach dan penulis buku "Mari Mindful," dalam sebuah podcast yang tayang di kanal YouTube Peep Talk pada Sabtu (8/11).

Fenomena kejaran kebahagiaan yang bersifat kondisional, atau yang dikenal sebagai hedonic treadmill, disoroti sebagai pemicu utama ketidaktenangan.

Praktik ini membuat seseorang merasa tidak pernah cukup bahagia, karena kebahagiaan selalu bergantung pada pencapaian atau hal-hal eksternal.

Menurut Tsamara, hal ini kontras dengan ketenangan yang berakar dari dalam diri dan cenderung lebih stabil.

"Kebanyakan yang bikin kita ruwet dengan mencari kebahagiaan atau hedonic treadmill, kayak selalu butuh suatu hal untuk bikin lebih bahagia, kayak enggak cukup-cukup," ungkap Tsamara, menekankan bahwa kondisi ini mempercepat rasa sedih, kecewa, dan marah.

Untuk keluar dari lingkaran pencarian kebahagiaan yang tidak ada ujungnya, Tsamara memperkenalkan metode Human Design.

Metode ini dideskripsikan sebagai "manual book" logis untuk mengoperasikan diri, jauh berbeda dari sekadar zodiak.

Dengan memahami Human Design seseorang, termasuk cara pengambilan keputusan (inner authority) dan bagaimana merespons stres, individu dapat meminimalisir rasa frustrasi dan kelelahan.

Pemahaman ini sangat membantu, terutama bagi mereka yang rentan mengalami decision fatigue (kelelahan mengambil keputusan) akibat terlalu banyak pilihan dan tuntutan.

Stres yang tidak terkelola dengan baik pun dapat memengaruhi hubungan interpersonal, bahkan menjadi salah satu faktor di balik meningkatnya kasus konflik relasi.

Kesadaran diri adalah langkah pertama yang krusial sebelum mencari bantuan eksternal.

Seseorang perlu mengenali tanda-tanda ketidakselarasan, seperti mudah marah, badan cepat lelah, atau oversensitif.

Untuk mengatasi kesibukan dan tekanan harian, Tsamara menyarankan solusi yang sangat sederhana dan dapat dilakukan kapan saja, yakni mengelola napas dan kesadaran tubuh.

Hanya dengan meluangkan waktu 5 menit untuk memperlambat hembusan napas (membuat napas keluar lebih panjang dari napas masuk) dan merasakan titik-titik tumpuan tubuh, sistem saraf dapat merespons dengan lebih rileks dan tenang.

"Definisi sesimpel nafas, karena itu yang selalu kita punya dan gratis," ujar Tsamara, menekankan bahwa meditasi dapat dilakukan secara gratis dan instan di manapun.

Bagi pekerja kantoran yang menghabiskan waktu berjam-jam di kursi, gerakan peregangan ringan seperti memutar pundak dan leher, serta teknik tapping atau memegang jari (Jin Shin Jyutsu) untuk meregulasi emosi, juga direkomendasikan untuk mencegah stagnasi energi.

Praktik-praktik sederhana inilah yang dapat mengembalikan makna dan ketenangan di tengah laju kehidupan yang terlalu cepat. (*/tia)

Editor : radar tuban digital
#ketenangan #marah #makna #stress #eksternal #metode #kesehatan mental #media sosial #napas #kebahagiaan #solusi #tubuh #Mindfulness #konflik