Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

AI Bisa Ambil Pekerjaanmu, Tapi 8 Cara Ini Bikin Kamu Tetap Dicari

Alifah Nurlias Tanti • Kamis, 13 November 2025 | 17:08 WIB
Perbedaan budaya konsumtif belanja orang kelas menengah dan orang miskin.
Perbedaan budaya konsumtif belanja orang kelas menengah dan orang miskin.

RADARTUBAN - AI memang sedang mengubah dunia kerja, tapi bukan berarti hanya coder yang bisa bertahan.

Justru, peluang terbuka lebar bagi siapa pun yang mau mempelajari hal baru.

Kuncinya terletak pada keterampilan yang fleksibel, bukan sekadar kemampuan coding, agar tetap relevan di tengah gempuran teknologi.

Menurut laporan geediting.com pada Rabu (12/11), terdapat delapan perbedaan mencolok dalam budaya konsumtif antara kelompok masyarakat kelas menengah dan masyarakat berpenghasilan rendah.

1. Kembangkan jiwa kewirausahaan

Dunia kerja sekarang berubah dengan sangat cepat.

Banyak tugas rutin digantikan oleh proses otomatisasi, sehingga bertahan  pada satu peran selamanya bukan lagi pilihan yang realistis.

Tapi jangan khawatir.

Perubahan ini justru dapat menjadi peluang untuk menumbuhkan mentalitas kewirausahaan yang lebih adaptif dan inovatif.

2. Kuasai literasi data

Di era digital, data adalah “bahan bakar” utama teknologi.

Kita tidak harus jago coding untuk bisa memanfaatkannya.

Kemampuan membaca, menafsirkan, dan menjelaskan data justru sangat penting.

Apalagi, organisasi modern setiap hari dibanjiri data dari berbagai sistem teknologi.

3. Nyaman dengan perubahan

Teknologi berkembang begitu cepat dan mengubah banyak aspek kehidupan kita.

Peralatan kantor yang dulu populer, seperti mesin faks, kini sudah tak relevan lagi. 

Menurut Forum Ekonomi Dunia, sekitar 85 juta pekerjaan diperkirakan akan tergantikan pada tahun 2025.

Namun kabar baiknya, akan muncul 97 juta peran baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman.

Beradaptasi berarti tidak berhenti belajar.

Kadang kita perlu meninggalkan cara lama, lalu mencoba hal baru dengan pikiran terbuka. 

4. Asah kemampuan kreatif

Kreativitas adalah sisi manusiawi yang belum bisa ditiru mesin.

Ia lahir dari orisinalitas, intuisi, dan kecerdasan emosional hal-hal yang robot tidak miliki.

Menurut riset Adobe, 71 persen bisnis menilai kreativitas sebagai hal wajib dalam organisasi.

Mengubah ide imajinatif menjadi kenyataan bukanlah proses otomatis.

Pemikiran kreatif, solusi inovatif, ekspresi artistik, dan rasa estetika tetap jadi kebutuhan utama, bahkan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

5. Tekankan kecerdasan emosional

Pada akhirnya, pekerjaan selalu kembali pada manusia: kerja sama, empati, dan saling mendukung.

Nilai-nilai ini adalah inti dari kecerdasan emosional yang begitu autentik dan tak tergantikan.

Teknologi secanggih apa pun tidak bisa meniru kedalaman emosi atau koneksi antar manusia.

Mesin tidak mampu merasakan kegembiraan, ikut berduka, atau memberi semangat tulus saat kita membutuhkannya.

6. Pahami dasar-dasar teknologi modern

Memahami teknologi modern sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan.

Kita tidak perlu tenggelam dalam teori algoritma yang rumit, cukup memahami konsep dasar dan dampaknya dalam kehidupan.

Sumber belajar pun tersedia luas, mulai dari artikel, ceramah TED, webinar, hingga kursus online.

Dengan bekal dasar ini, kita bisa membaca arah tren industri dan mengambil keputusan strategis untuk karier.

7. Jangan pernah berhenti belajar

Pasar kerja terus bergerak dan berubah, dengan keterampilan baru bermunculan setiap saat.

Perubahan ini semakin cepat akibat pesatnya perkembangan teknologi dan otomasi. 

Jika hanya berpegang pada pengetahuan lama, kita bisa tertinggal jauh dari arus industri.

Karena itu, kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengasah keterampilan kini menjadi lebih penting daripada sebelumnya.

8. Tajamkan kemampuan pemecahan masalah

Mesin mampu memproses data, tapi tidak bisa menggantikan manusia dalam menemukan solusi.

Kemampuan memecahkan masalah adalah jantung dari setiap pekerjaan, sebuah keterampilan abadi yang melampaui teknologi, profesi, dan zaman. (*/lia)

Editor : radar tuban digital
#perkembangan teknologi #AI #pasar kerja #coder #dunia kerja #coding #kewirausahaan #teknologi #kreativitas #pekerjaan #manusia #teknologi modern #budaya konsumtif